Dilarang Terbang, "Ngapain" Marah? Kerja Saja!

Kompas.com - 25/07/2008, 13:25 WIB

JAKARTA, JUMAT - Pengamat penerbangan Agus Pambagyo mengatakan, larangan terbang oleh Uni Eropa terhadap maskapai Indonesia seharusnya tak perlu direspons secara reaktif oleh otoritas penerbangan di Indonesia.

"Mengapa selalu marah, kerja saja!" kata Agus seusai mengikuti penjelasan Uni Eropa terkait diperpanjangnya larangan terbang ke wilayah Eropa di Jakarta, Jumat (25/7).

Agus menyatakan keheranannya mengapa otoritas penerbangan sulit memenuhi syarat yang diajukan untuk bisa beroperasi di wilayah Uni Eropa. Padahal, menurutnya sangat sederhana hal yang harus dilakukan. Apalagi, Uni Eropa juga telah mengirim konsultan untuk membantu Indonesia memenuhi persyaratan sesuai aturan International Civil Aviation Organization (ICAO).

"Persoalannya umum saja. Penuhi semua karena contoh dokumen sudah dikasih, tinggal buat saja. Enggak susah. Itu yang jadi pertanyaan saja, buat begitu saja kok susah. Nah, kalau sudah dibuat dan tidak dilepas (larangan terbang), mari kita maju bersama-sama, berarti ada sesuatu. Mereka cuma bilang, just do your homework, kerjain saja. Saya enggak tahu, ada apa dibalik itu, kok susah sekali," kata Agus.

Seharusnya proses pelengkapan dokumen dan pemenuhan standar keselamatan terbang tak memakan waktu lama. Akan tetapi, kelemahan otoritas Indonesia adalah membuang waktu untuk melakukan lobi-lobi.

"Ini masalah teknis kok, enggak usah lobi-lobi. Konsultan sudah enam bulan di sini (Indonesia) mau bantu. Ia (konsultan) sampai jengkel, sebel. Masa sudah dibantu, ia yang disuruh buat dokumennya. Ibaratnya mau masuk rumah orang, buat saja. Kalau enggak mau buat, ya enggak usah masuk," ujarnya.

Agus mengakui, banyak hal yang harus diperbaiki Indonesia. Diantaranya, mengenai pemberian sertifikat layak terbang. Selain itu, regulasi tentang penerbangan Indonesia juga diharapkan bisa lebih menjamin keselamatan penerbangan. Saat ini, pemerintah bersama DPR tengah membahas RUU Penerbangan yang dijanjikan akan selesai akhir tahun 2008.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau