JAKARTA, JUMAT - Pengamat penerbangan Agus Pambagyo mengatakan, larangan terbang oleh Uni Eropa terhadap maskapai Indonesia seharusnya tak perlu direspons secara reaktif oleh otoritas penerbangan di Indonesia.
"Mengapa selalu marah, kerja saja!" kata Agus seusai mengikuti penjelasan Uni Eropa terkait diperpanjangnya larangan terbang ke wilayah Eropa di Jakarta, Jumat (25/7).
Agus menyatakan keheranannya mengapa otoritas penerbangan sulit memenuhi syarat yang diajukan untuk bisa beroperasi di wilayah Uni Eropa. Padahal, menurutnya sangat sederhana hal yang harus dilakukan. Apalagi, Uni Eropa juga telah mengirim konsultan untuk membantu Indonesia memenuhi persyaratan sesuai aturan International Civil Aviation Organization (ICAO).
"Persoalannya umum saja. Penuhi semua karena contoh dokumen sudah dikasih, tinggal buat saja. Enggak susah. Itu yang jadi pertanyaan saja, buat begitu saja kok susah. Nah, kalau sudah dibuat dan tidak dilepas (larangan terbang), mari kita maju bersama-sama, berarti ada sesuatu. Mereka cuma bilang, just do your homework, kerjain saja. Saya enggak tahu, ada apa dibalik itu, kok susah sekali," kata Agus.
Seharusnya proses pelengkapan dokumen dan pemenuhan standar keselamatan terbang tak memakan waktu lama. Akan tetapi, kelemahan otoritas Indonesia adalah membuang waktu untuk melakukan lobi-lobi.
"Ini masalah teknis kok, enggak usah lobi-lobi. Konsultan sudah enam bulan di sini (Indonesia) mau bantu. Ia (konsultan) sampai jengkel, sebel. Masa sudah dibantu, ia yang disuruh buat dokumennya. Ibaratnya mau masuk rumah orang, buat saja. Kalau enggak mau buat, ya enggak usah masuk," ujarnya.
Agus mengakui, banyak hal yang harus diperbaiki Indonesia. Diantaranya, mengenai pemberian sertifikat layak terbang. Selain itu, regulasi tentang penerbangan Indonesia juga diharapkan bisa lebih menjamin keselamatan penerbangan. Saat ini, pemerintah bersama DPR tengah membahas RUU Penerbangan yang dijanjikan akan selesai akhir tahun 2008.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang