Yusril: Sudah Cukup Tiga Kali Saya Mengalah

Kompas.com - 25/07/2008, 18:23 WIB

JAKARTA, JUMAT - Calon presiden resmi Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, tidak akan pernah mundur lagi dalam pemilihan umum presiden 2009. Walau pun dia akan mengalami tekanan seperti pada pemilu yang lalu-lalu.

"Sudah cukup tiga kali saya mengalah. Kenapa dulu saya mengalah? Saya dipaksa untuk mundur sampai didorong-dorong ke tembok. Alasannya, karena saya dinilai masih terlalu muda dan tidak ada pengalaman. Padahal, Gus Dur dan Megawati juga tidak punya pengalaman tho?" ujarnya ketika berdiskusi dengan sejumlah tokoh di ruang pers DPR, Jumat (25/7).

Kali ini, dia berjanji tidak akan mundur dari pencalonan, kecuali terganjal Undang-Undang Pemilu. Inilah yang sedang PBB perjuangkan agar tidak kalah dengan partai-partai besar. Jika langkahnya tak terganjal UU tersebut, dia yakin partai kecilnya akan memenangkannya menjadi orang nomor satu di Indonesia.

"Jangan remehkan partai kecil. SBY-JK itu menangnya ya karena partai kecil. Kami pernah mencalonkan seseorang dalam Pilkada dan dia menang. Itu fakta lho. Jangan suka aneh dengan mengolok-olok partai kecil," tukasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau