Megawati Pendam Rindu 2 Bulan untuk Chris John

Kompas.com - 28/07/2008, 16:54 WIB

JAKARTA, SENIN - Chris John, asal Banjarnegara, Jawa Tengah, satu-satunya petinju Indonesia yang memegang gelar juara dunia saat ini. Jauh sebelumnya, Indonesia memiliki Ellyas Pical dan Nico Thomas. Untuk meningkatkan kemampuannya, mantan atlet suhu ini berburu pelatih Craig Christian hingga ke Australia.

Setelah 'hijrah' ke negeri Kanguru, petinju pemilik rekor 42 kali tanding dengan tanpa kekalahan, 41 kali menang 22 pertandingan dimenangkan dengan knock out (KO) dan seri sekali ini sering kali berlatih nun jauh di sana, meninggalkan Anna Maria Megawati, dan Maria Luna Ferisha, anak dan putri mereka.

"Mas Chris John itu petinju profesional. Dia rela jauh-jauh latihan ke Australia sampai berbulan- bulan. Saya sadar, sebagai istri, saya pun harus profesional mendukung suami. Untuk mendukung karier tinju Mas Chris, saya harus siap memendam rindu saat dia berlatih di luar negeri," ujar Megawati yang berada di Semarang saat dihubungi Persda Network, Minggu (27/7).

Chris John merupakan putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Johan Tjahjadi (alias Tjia Foek Sem) dan Maria Warsini. Ia dan keluarganya kemudian hijrah dari Jakarta ke Banjarnegara, Jawa Tengah.

Ayah Chris John, Johan Tjahjadi yang mantan petinju amatir, melatih Chris John dan adiknya Adrian sejak mereka masih berusia dini, sekitar usia 5 tahun. Setelah bertanding dalam beberapa kejuaraan amatir di Banjarnegara, Chris John kemudian direkrut oleh pelatih tinju kenamaan, Sutan Rambing, di Semarang.

Jika sebagian istri suka menyaksikan langsung pertandingan suami dengan menonton di dekat ring, tidak demikian dengan ibu satu putri ini. "Setiap Mas Chris naik ring, saya tidak pernah ikut menonton langsung. Saya pikir timnya sudah komplet kok, ngapain ke sana (ikut menonton). Malah nanti jadi repot, konsentrasi tidak fokus di atas ring," kata Anna Maria Megawati.

Megawati bertekad harus dapat mengendalikan kerinduan sebagai istri, demi karier suami, yang sukses menganvaskan sembilan petinju dan sembilan kali mempertahankan gelar juara WBA, dalam lima tahun terakhir.

Walau pasangan suami istri itu tinggal berjauhan dalam waktu relatif lama, Megawati mengatakan mereka tetap melepas rindu. Caranya? " Dalam sehari bisa sampai tiga kali menelepon. Sekarang kan teknologi sudah canggih, jadi komunikasi bisa seperti tatap muka dengan menggunakan 3G. Anak kami, kalau kangen, entah di rumah atau saat di sekolah pun, selalu telepon Mas Chris."

Dalam komunkasi yang lancar itu, ia mengaku berbagai hal dibicarakan, termasuk informasi setiap seputar pertandingan. Akan halnya batalnya tarung Chris John melawan Jackson Asiku, Minggu (27/7), Anna Maria Megawati mengatakan sudah dirasa Chris sejak jauh hari.

Menurut dia, informasi dari promotor pertandingan sering kali tidak pasti. selalu berubah-ubah antara naik ring atau tidak. Karena ketidakpastian itulah, Chris John berlatih tidak terlalu ketat, termasuk dalam hal mengatur menu makanan sehingga bobot badannya sempat lebih 4,4 kilogram sehari menjelang tarung.

Setelah gagal bertarung, Megawati berharap semua pihak instropeksi. "Bagaimana pun ini bukan kesalahan petinju sendiri. Dari pemerintah, petinju, promotor, ya semua pihak lah," katanya sembari menambahkan keyakinan sabuk juara tidak dicabut suami tidak akan dicabut pihak asosiasi tinju dunia atau World Boxing Association (WBA). (Persda Network/Domu Damians Ambarita)

Profil Singkat Chris John

Nama: Yohannes Christian John
Julukan: The Dragon
Tempat/Tgl Lahir: Banjarnegara, Jawa Tengah, 14 September 1981
Pendidikan: SMU Yayasan Pancasila (lulus 1999)
Penghargaan:

- Juara Tinju Amatir Kejurda Jawa Tengah 1995
- Juara Tinju Amatir Piala Maesa 1997
- Gelar Interim Champion WBA (menang angka atas Oscar Leon 25 September 2003)
- Peringkat 5 versi Fightnews dan peringkat 10 versi Boxrec (November 2004)
- Gelar juara dunia kelas bulu versi PBA (2001-2003)
- Gelar juara dunia kelas bulu versi WBA (2003-sekarang) Rekor 42 kali menang, 22 di antaranya KO, sekali seri.
- Medali emas kelas 52 kg di SEA Games Jakarta 1997 (atlet wushu)
- Medali perunggu di SEA Games Kuala Lumpur 2001 (wushu)
- Medali emas kelas 56 kg PON Jakarta 2000 (wushu)

Keluarga:

Orangtua: Djohan Tjahyadi (ayah), Warsini (ibu)
Istri: Anna Maria Megawati (mnikah 23 Januari 2005)
Anak: Maria Luna Ferisha

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau