Warga Karangasem Kesulitan Air Bersih

Kompas.com - 28/07/2008, 17:10 WIB

KARANGASEM, SENIN - Ribuan penduduk pada sejumlah desa di Kabupaten Karangasem, di penghujung timur Bali, kini mulai kesulitan air bersih setelah kemarau berlangsung cukup panjang. Pantauan Antara, Senin (28/7), menyebutkan kondisi warga yang cukup parah antara lain tampak di Desa Muntigunung dan Tianyar Barat, Kecamatan Kubu.

Kepala Desa (Perbekel) Tianyar Barat, Putu Gede Dana mengakui kalau warganya sejak sepekan ini mengalami kesulitan air bersih setelah kemarau berlangsung cukup panjang. "Warga kami seperti biasa memanfaatkan air yang bersumber dari curah hujan, sehingga bagaimana sekarang bisa punya air kalau hujannya tidak  turun," ujarnya.

Sementara Camat Kubu, Wayan Sutapa, mengaku bahwa pihaknya telah memasok air bersih kepada penduduk yang bermukim di daerah perbukitan yang tandus, seperti di daerah Muntigunung dan Tianyar Barat. "Air dipasok ke daerah itu dengan mobil tangki yang setiap harinya berkisar antara dua sampai tiga mobil," katanya.

Gede Dana membantah kalau pasokan air dari kantor kecamatan itu telah sampai ke wilayahnya. "Belum tuh, belum ada mobil tangki yang datang ke sini," katanya.

Kepala Desa menjelaskan, kalau saja mobil tangki tersebut telah sampai ke desanya, dijamin sebagian besar warga tidak mampu membeli air bersih.

Masalahnya, lanjut dia, air bersih yang biasa dibawa mobil tangki harganya sangat mahal. "Perlima kubik air saja, harganya lebih dari Rp 150 ribu. Darimana uang sebesar itu bagi warga kami yang sebagian besar tercatat sebagai petani miskin?" ujar Gede Dana.

Sehubungan dengan itu, ia mengharapkan, kalau saja air akan dipasok ke daerahnya dengan mobil tangki, harganya dapat ditekan sehingga penduduk mampu membelinya.

Sehubungan hujan tak kunjung turun, beberapa warga Tinyar Barat mengaku terpaksa harus menempuh jarak sekitar empat kilometer untuk mendapatkan air pada sebuah sumur tua yang terdapat di dekat Pantai Kubu. Meski airnya dirasakan payau, namun tidak sedikit warga yang terpaksa harus menyusuri jalan setapak menuruni lereng bukit untuk mendapatkan air di sumur tua tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau