Indonesia Perlu Lahirkan Banyak Ilmuwan

Kompas.com - 28/07/2008, 21:26 WIB

JAKARTA, SENIN - Indonesia perlu membuka peluang untuk lahirnya banyak ilmuwan dengan harapan ada yang bisa menjadi peraih Nobel. Impian ini bukanlah tanpa dasar karena Indonesia punya banyak bibit unggul  di bidang sains dan teknologi yang sebenarnya mampu bersaing dengan ilmuwan dunia lainnya.

”Untuk negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, hadiah Nobel sangat berarti. Kita sebenarnya punya bibit unggul mulai dari Aceh hingga Papua yang suatu saat nanti bisa muncul sebagai peraih Nobel. Kuncinya, Indonesia perlu mendorong munculnya sebanyak mungkin ilmuwan yang  mampu menghasilkan penelitian berkualitas dan spektakuler,” kata Fisikawan Yohanes Surya dalam pertemuan mengenai penyelenggaraan Science Camp (ACS) 2008, di Jakarta, Senin (28/7).

Menurut Yohanes yang juga Ketua Panitia ACS 2008, bermunculannya banyak siswa Indonesia yang berprestasi di ajang olimpiade sains dunia seharusnya berlanjut pada membuka kesempatan bagi mereka untuk bisa menikmati pendidikan terbaik di dunia.

”Kita bisa belajar dari China. Banyak siswa terbaiknya yang dikirim belajar ke Amerika Serikat. Ini bisa membuka kesempatan buat siswa terbaik kita untuk belajar dari ilmuwan dunia, bahkan peraih nobel. Tentu saja tidak boleh dilupakan memperbaiki pendidikan tinggi kita yang bisa melahirkan ilmuwan yang baik,” ujar Yohanes.

Anugerah Pekerti, anggota Directors of International Board, Habitat for Humanity International, yang juga Panitia ACS 2008, mengatakan peluang untuk lahirnya banyak ilmuwan  bisa dimulai dengan penyediaan sarana riset,  perpustakaan, serta membangun budaya baca yang kuat.

”Orang Indonesia itu nggak berpikir ilmu untuk kepentingan jauh ke depan. Coba amati, uang yang banyak dari hasil tambang di daerah-daerah lebih suka dihabiskan untuk bermewah diri daripada menyediakan beragam fasilitas yang bisa mendorong lahirnya banyak ilmuwan di negara ini,” kata Anugerah.

Mengenai banyaknya orang pintar Indonesia berprestasi yang lebih suka menimba ilmu dan berkarir di luar negeri, Anugerah, mengatakan, sebenarnya cara untuk membuat mereka kembali ke Tanah Air tidak sulit. Pemerintah justru bisa menawarkan peluang riset yang menantang dan publikasi buat mereka di dalam negeri.

Anugerah mencontohkan Pemerintah Korea Selatan, Taiwan, dan China berhasil menarik pulang warga negara mereka yang berprestasi dari luar negeri. ”Cara menariknya tidak yang macam-macam. Pemerintah di sana menawarkan peluang riset yang lebih besar dan dibangunnya pusat-pusat sains,” jelas Anugerah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau