Jangan Gunakan Isu Mayoritas untuk Ketidakadilan

Kompas.com - 29/07/2008, 04:28 WIB

JAKARTA, SELASA-Mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia yang juga Ketua DPP Partai Demokrat, Dr Anas Urbaningrum mengimbau agar jangan lagi menggunakan isu mayoritas untuk berlaku tidak adil. "Mayoritas dan minoritas harus hidup berdampingan secara tulus, damai, harmoni, saling menghormati, serta jauh dari sikap semena-mena," katanya di Jakarta, Senin (28/7) malam.

Anas mengungkapkan hal ini menanggapi pernyataan Walikota Jakarta Timur, Murdani, yang menyatakan bahwa warga minoritas harus menyadari keberadaannya terkait dengan bentrokan fisik antara sejumlah warga Kampus Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (Setia) kontra warga sekitar di Kampung Pulo, Pinang Ranti, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, pada Jumat (25/7) malam lalu.

Ia kemudian kembali menekankan, agar mayoritas dan minoritas harus hidup berdampingan secara tulus, damai, harmoni, saling menghormati serta jauh dari sikap semena-mena. "Isu mayoritas tidak boleh digunakan untuk berlaku tidak adil. Jalan damai harus diutamakan untuk menyelesaikan setiap perselisihan di tengah masyarakat," ujar Anas.

Anas mengingatkan, kekerasan tidak pernah mendatangkan solusi apa pun juga. "Bahkan, selalu melahirkan masalah ikutan dan memperparah persoalan," katanya.
    
Hampir senada dengan itu, mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 2003-2005, Hasanuddin, menyatakan, tidak perlu lagi ada pandangan mayoritas atau minoritas sebagai dasar atas suatu pengambilan kebijakan publik. "Karena, hak warga Negara di mana pun secara konstitusional sama. Makanya, stop segala bentuk diskriminasi," katanya.

Hasanuddin menilai, kejadian di Jakarta Timur (Jaktim) itu patut kita sesalkan. "Dan penting untuk mengingatkan semua pihak untuk mengedepankan pikiran-pikiran sehat, dan tidak justru mengeluarkan statement-statement yang tidak sepatutnya," katanya, masing mengkritisi pernyataan Walikota Jakarta Timur tadi.

Ia kembali mengingatkan, hak warga negara di mana pun secara konstitusional sama. "Makanya, tidak perlu lagi ada pandangan mayoritas atau minoritas sebagai dasar suatu pengambilan kebijakan publik," tegasnya. Apa pun alasannya, menurutnya, stop segala bentuk diskriminasi dan tegakkan hukum dengan adil. "itu kuncinya. Kalau ada pejabat yang tidak bisa berlaku adil, sebaiknya berhenti saja jadi pejabat," kata Hasanuddin lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau