Timnas Setnet Mulai Bekerja Tahun ini

Kompas.com - 29/07/2008, 18:10 WIB

JAKARTA, SELASA - Timnas Setnet yang dikoordinatori oleh Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) akan dijadwalkan mulai bekerja tak lebih dari tahun ini. Demikian dikatakan Dirjen Perikanan Tangkap Ali Supardan kepada Kompas.com seusai menghadiri seminar internasional tentang Pengembangan Alat Tangkap Ikan Setnet di Hotel Arayaduta, Jakarta, Selasa (29/7).

"Saya berharap bulan Agustus nanti sudah bisa diresmikan timnas tersebut, karena kita sudah siapkan semua roadmap, program dan personelnya, tinggal launch aja," tuturnya. Alat tangkap ikan setnet, dikatakan Ali, menjadi alternatif solusi untuk mengatasi nelayan yang tidak bisa melaut karena harga BBM yang tinggi. "Dari segi kualitas hasil ikan juga lebih fresh karena ikan masih hidup saat ditangkap. Selain tak perlu bahan bakar, alat ini juga tidak merusak ekosistem laut yang artinya lebih ramah lingkungan," ujarnya.

Keunggulan lain, dikatakan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Indra Jaya, masyarakat nelayan juga dapat lebih diberdayakan."Karena di beberapa daerah yang telah diujicoba seperti Bone, Kepulauan Raja Ampat dan Bengkulu, mereka sedang merintis seperti yang dilakukan Jepang yakni mereka mengusahakan dana bersama untuk pembuatan alat, hasilnya pun dinikmati bersama," ujarnya.Yang perlu digarisbawahi, kata Indra, pengembangan jaring setnet ini tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang saja.

"Masyarakat pesisir yang harus membangun dengan dana mereka, mesti ada bantuan dari stakeholder tapi tidak dominan, karena partisipasi merekai itulah yang perlu dikembangkan," tuturnya. Pengembangan teknologi ini di Indonesia, menurut Indra, dapat menjangkau pemasangan jaring setnet hingga kedalaman 50 meter dan panjangnya bisa ratusan meter di sepanjang pesisir laut.

"Persoalan yang dihadapi saat ini, kami sedang mengembangkan teknologi yang lebih akurat untuk menghitung kecepatan arus laut di lokasi yang akan dipasang jaring dan pola migrasi ikan," katanya.Teknologi alat tangkap ini, kata Indra, diharapkan dapat segera diimplementasikan untuk menjawab persoalan nelayan di seluruh Indonesia yang kesulitan melaut karena harga BBM yang melambung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau