Awas Infeksi Entamoeba Hystolytica!

Kompas.com - 29/07/2008, 21:51 WIB

JAKARTA, SELASA - Angka kejadian infeksi baru, infeksi lampau, dan infeksi berulang entamoeba hystolytica asimtomatik lebih tinggi pada anak usia sekolah dibandingkan dengan anak usia prasekolah. Salah satu penyebabnya karena anak-anak jajan di sekolah.

Satu penelitian menemukan bahwa 97 persen penjaja makanan di pinggir jalan ditemukan adanya satu atau lebih jenis parasit. E histolytica ditemukan pada 72 persen penjaja makanan, ascaris lumbricoides ditemukan pada 54 persen penjaja makanan, kata Rini Sekart ini saat mempertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (29/7).

Disertasi Rini Sekartini berjudul Perbedaan Faktor Risiko Infeksi Entamoeba Histolytica Asimtomatik pada Anak Usia Prasekolah dan Usia Sekolah Sebagai Dasar Tindakan Intervensi: Pemanfaatan Sistem Skoring dan Analisis Spasial Menggunakan Sistem Informasi Geografi.

Rini dinyatakan berhak menyandang gelar doktor dengan yudisium cumlaude. Ia merupakan doktor y ang ke-89 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selama tahun 2000-2008 dengan IPK 3,83 dan lulus sebelum tiga tahun masa studi.

Penelitian dilakukan mulai bulan April-Oktober 2007 yang mengikutsertakan 1.215 anak di kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, terdiri dari 655 anak usia sekolah (6-12 tahun) dan 560 anak usia prasekolah (2-6 tahun).  

 

Penyebab mortalitas

Survei Kesehatan Rumah Tangga mendapatkan penyebab mortalitas pada anak di Indonesia salah satunya adalah diare yang menempati urutan ketiga. Salah satu penyebab diare yaitu infeksi parasit E histolytica.

Transmisi penyakit melalui fekal-oral. Infeksi dapat terjadi bila tertelan kista matang dalam makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan tinja. Sumber penularan utama adanya infeksi kronik atau karier pada manusia. Salah satu cara untuk memutus rantai penularan adalah dengan usaha pencegahan.

Tujuan khusus dari penelitiannya, menurut Rini, adalah membuat skoring untuk memprediksi tingkat probabilitas terjadinya infeksi E histolyc a asimtomatik pada individu dan model yang menggunakan Sistem Informasi Geografi untuk menentukan tingkat kerawanan suatu wilayah/daerah terhadap terjadinya infeksi E histolytica asimtomatik.

Penelitian Rini ini sangat berguna karena dapat mendeteksi dini adanya infeksi E histolytica asimtomatik pada anak usia prasekolah dan usia sekolah dan melakukan tindakan intervensi dini. Data ini dapat menjadi dasar kebijakan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya pencegahan penyebaran infeksi ameba dan menjadi dasar dalam kebijakan kesehatan anak secara nasional, baik oleh pemerintah maupun nonpemerintah (advokasi) dalam aspek promotif, preventif dan kuratif pada infeksi E histolytica asimtomatik.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau