Baju Converse Imam Samudera Mau Dilelang

Kompas.com - 30/07/2008, 16:34 WIB

EKSEKUSI  terhadap Imam Samudera, bernama asli Abdul Azis, bersama dua rekannya, Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlas, hanya tinggal menghitung hari. Keluarga Imam Samudera juga  sudah mengikhlaskan. Meski, kalau boleh memilih atas keinginan keluarga juga, Imam ingin dihukum secara Islam, dengan cara dipancung.

Kini, mungkin sudah banyak yang sudah lupa saat Imam Samudera tertangkap oleh Polri. Saat tertangkap ketika itu, Imam Samudera mengenakan baju berwarna hitam merek converse, salah satu produk terkenal asal Amerika. Baju itu masih tersimpan dengan baik oleh Lulu Jamaluddin adik Imam Samudera. Lulu mengaku akan melelang baju itu bagi mereka yang berminat dan hasilnya akan disumbang bagi fakir miskin.

"Memang ada keinginan baju kang Azis yang sempat heboh waktu itu, untuk dilelang. Sudah banyak yang pingin baju itu sehingga lebih baik saya mau lelang saja. Yang datang kepada saya mengatakan, minat baju  kang Azis  untuk kenang-kenangan saja," cerita Lulu Jamaluddin tanpa mau menyebut berapa harga yang ditawarkan saat berbincang-bincang dengan Persda Network, Rabu (30/7).    
 
Sebelum ajal menjemput, Imam Samudera menurut penuturan Lulu sempat menitipkan surat wasiat. Lulu mengakui, awalnya, kakaknya yang kerap disapa kang Azis meminta agar surat itu segera dibuka, bisa diketahui oleh seluruh keluarga. Namun, keinginan itu, diakui Lulu, diurungkan.

"Saya menganggap, surat itu belum saatnya dibuka. Nanti, akan ada waktu yang tepat untuk membukanya dan diketahui secara bersama-sama. Kang Azis kemudian setuju," aku Lulu.

Surat wasiat yang tertutup amplop warna putih dengan tulisan tangan Imam Samudera ini, kini ia simpan di rumah. Umi, ibu kandung Imam Samudera maupun Lulu juga masih belum ingin mengetahui segera, apa isi surat itu.

Banyak cerita yang didapat dari Lulu atas cerita kakaknya ini. Ia mengakui, begitu ada keputusan resmi dari pemerintah (Kejaksaan Agung) yang mengumumkan akan melakukan eksekusi terhadap kakanya maupun Amrozi dan Mukhlas sebagai terpidana mati bom Bali I, banyak warga Serang, Provinsi  Banten yang berebut, menyediakan makam khusus bagi kakaknya.

"Bahkan, ada warga Banten sudah ada yang menawarkan kepada keluarga kami, menyediakan lahan seluas satu hektare untuk makam kang Azis.  Kami menyambutnya dengan menyebut alhamdulillah, tiada kuasa selain dari-NYA. Sekarang, keluarga belum memutuskan akan kami makamkan dimana kang Azis nanti," aku Lulu Jamaluddin.

Imam Samudera  atau  Abdul Aziz lahir di Desa Lopang Gede, Serang, Banten, 14 Januari 1970.  Abdul Aziz adalah anak kedelapan dari 11 bersaudara.Ayahnya, Sihabuddin dan ibunya, Ny Embay Badriah, bercerai saat Abdul Aziz masih anak-anak. Sebulan sebelum tertangkapnya Imam Samudera,  kebetulan kami sudah melakukan pendekatan kepada keluarga besarnya. Hingga kini, tidak sulit untuk mendapatkan cerita dari Lulu Jamaluddin terkait cerita kakaknya, Abul Azis.

Persisnya, pada 26 November 2002 lalu Imam Samudera tertangkap. Di kalangan teman sekampungnya saat kami melakukan investigasi, Imam Samudera atau Azis,  dikenal sebagai anak pintar. Sekolahnya selalu peringkat satu, menonjol dalam pelajaran IPA dan Kerajinan Tangan. Tapi, Aziz tidak terlalu pintar dalam pelajaran Matematika. Lulu Jamaludin ketika itu menceritakan, kakaknya  tidak suka kekerasan.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Negeri, dengan uang dari hasil menjual perhiasan ibunya, tahun 1990 Aziz pergi ke Malaysia untuk transit menuju Pakistan, untuk selanjutnya ke Afghanistan. Dari sinilah, diyakini semangat jihad kemudian ada di dalam fikiran Imam Samudera.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau