EKSEKUSI terhadap Imam Samudera, bernama asli Abdul Azis, bersama dua rekannya, Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlas, hanya tinggal menghitung hari. Keluarga Imam Samudera juga sudah mengikhlaskan. Meski, kalau boleh memilih atas keinginan keluarga juga, Imam ingin dihukum secara Islam, dengan cara dipancung.
Kini, mungkin sudah banyak yang sudah lupa saat Imam Samudera tertangkap oleh Polri. Saat tertangkap ketika itu, Imam Samudera mengenakan baju berwarna hitam merek converse, salah satu produk terkenal asal Amerika. Baju itu masih tersimpan dengan baik oleh Lulu Jamaluddin adik Imam Samudera. Lulu mengaku akan melelang baju itu bagi mereka yang berminat dan hasilnya akan disumbang bagi fakir miskin.
"Memang ada keinginan baju kang Azis yang sempat heboh waktu itu, untuk dilelang. Sudah banyak yang pingin baju itu sehingga lebih baik saya mau lelang saja. Yang datang kepada saya mengatakan, minat baju kang Azis untuk kenang-kenangan saja," cerita Lulu Jamaluddin tanpa mau menyebut berapa harga yang ditawarkan saat berbincang-bincang dengan Persda Network, Rabu (30/7).
Sebelum ajal menjemput, Imam Samudera menurut penuturan Lulu sempat menitipkan surat wasiat. Lulu mengakui, awalnya, kakaknya yang kerap disapa kang Azis meminta agar surat itu segera dibuka, bisa diketahui oleh seluruh keluarga. Namun, keinginan itu, diakui Lulu, diurungkan.
"Saya menganggap, surat itu belum saatnya dibuka. Nanti, akan ada waktu yang tepat untuk membukanya dan diketahui secara bersama-sama. Kang Azis kemudian setuju," aku Lulu.
Surat wasiat yang tertutup amplop warna putih dengan tulisan tangan Imam Samudera ini, kini ia simpan di rumah. Umi, ibu kandung Imam Samudera maupun Lulu juga masih belum ingin mengetahui segera, apa isi surat itu.
Banyak cerita yang didapat dari Lulu atas cerita kakaknya ini. Ia mengakui, begitu ada keputusan resmi dari pemerintah (Kejaksaan Agung) yang mengumumkan akan melakukan eksekusi terhadap kakanya maupun Amrozi dan Mukhlas sebagai terpidana mati bom Bali I, banyak warga Serang, Provinsi Banten yang berebut, menyediakan makam khusus bagi kakaknya.
"Bahkan, ada warga Banten sudah ada yang menawarkan kepada keluarga kami, menyediakan lahan seluas satu hektare untuk makam kang Azis. Kami menyambutnya dengan menyebut alhamdulillah, tiada kuasa selain dari-NYA. Sekarang, keluarga belum memutuskan akan kami makamkan dimana kang Azis nanti," aku Lulu Jamaluddin.
Imam Samudera atau Abdul Aziz lahir di Desa Lopang Gede, Serang, Banten, 14 Januari 1970. Abdul Aziz adalah anak kedelapan dari 11 bersaudara.Ayahnya, Sihabuddin dan ibunya, Ny Embay Badriah, bercerai saat Abdul Aziz masih anak-anak. Sebulan sebelum tertangkapnya Imam Samudera, kebetulan kami sudah melakukan pendekatan kepada keluarga besarnya. Hingga kini, tidak sulit untuk mendapatkan cerita dari Lulu Jamaluddin terkait cerita kakaknya, Abul Azis.
Persisnya, pada 26 November 2002 lalu Imam Samudera tertangkap. Di kalangan teman sekampungnya saat kami melakukan investigasi, Imam Samudera atau Azis, dikenal sebagai anak pintar. Sekolahnya selalu peringkat satu, menonjol dalam pelajaran IPA dan Kerajinan Tangan. Tapi, Aziz tidak terlalu pintar dalam pelajaran Matematika. Lulu Jamaludin ketika itu menceritakan, kakaknya tidak suka kekerasan.
Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Negeri, dengan uang dari hasil menjual perhiasan ibunya, tahun 1990 Aziz pergi ke Malaysia untuk transit menuju Pakistan, untuk selanjutnya ke Afghanistan. Dari sinilah, diyakini semangat jihad kemudian ada di dalam fikiran Imam Samudera.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang