Toilet Khusus Siswa Gay di Thailand

Kompas.com - 30/07/2008, 18:03 WIB

KALAU kebetulan melancong ke wilayah Timur Laut Thailand, tepatnya di Provinsi Kampang, Anda mungkin akan menemukan sebuah fenomena unik. Ada sebuah sekolah menengah negeri di sana yang menyediakan fasilitas toilet khusus untuk para siswa transeksual atau transgender.

Bila dilihat sekilas dari luar, tidak ada yang mencolok dari Kampang Secondary School. Sekolah ini memiliki halaman luas dengan ruang-ruang kelas yang tampak sedikit usang. Sebagai sekolah menengah di kawasan penduduk miskin, kebanyakan siswa sekolah ini adalah anak-anak para petani. Setiap pukul 08.00 pagi, para siswa berkumpul untuk melakukan upacara bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Thailand.

Setelah upacara, para siswa biasanya bergantian pergi ke toilet, sebelum mendapatkan pelajaran di hari itu.  Nah, di sinilah letak keunikan dan kelebihan Sekolah Menengah Kampang ini. Selain bersih dan selalu dihiasi oleh beragam bunga dan tumbuhan tropis, toilet di sekolah ini pernah mendapat penghargaan atas kebersihannya.

Yang luar biasa, selain disediakan toilet untuk siswa putra dan putri, sekolah juga ternyata menyediakan suatu toilet khusus. Pada bagian depan pintu toilet khusus ini terdapat simbol gambar setengah pria setengah wanita dengan kombinasi warna biru dan merah.

Inilah fasilitas toilet untuk para siswa transeksual atau transgender. Dari luar, di dekat pintu masuk toilet ini akan ditemukan beberapa siswa putra yang tampak kemayu merapikan rambut dan mengoleskan krim pada wajah mereka.

'Ketidaknyamanan'
Menurut keterangan kepala sekolah Kampang, Sitisak Sumontha, diperkirakan setiap tahunnya  10 hingga and 20 persen dari siswa putra di sekolahnya mempertimbangkan diri untuk mengubah status gendernya menjadi transeksual - laki-laki yang punya kecenderungan sebagai perempuan.

"Mereka bisanya diolok-olok setiap kali menggunakan  toilet pria.  Oleh karena itu mereka lalu mulai menggunakan toilet wanita. Tetapi  kehadiran mereka juga membuat para siswa putri tidak nyaman. Ini jelas membuat mereka tidak senang dan mulai dapat mempengaruhi kegiatan belajar," papar Sumontha

Dilatar belakangi fakta itulah, sekolah akhirnya menawarkan untuk membangun toilet khusus untuk pria transeksual dan mereka ternyata menyambutnya dengan sangat antusias.

Triwate Phamanee, salah seorang siswa berusia 13 tahun yang sering menggunakan toilet khusus ini, menyatakan begitu yakin bahwa suatu hari ia akan mengubah status jender-nya. "Kami bukanlah laki-laki. , Oleh sebab itu kami tidak ingin memakai toilet mereka.  Kami ingin mereka tahu bahwa kami adalah transeksual," ujarnya dengan penuh percaya diri.

Hal sama juga diungkap, Vichai Saengsakul (15). "Orang harus tahu bahwa  menjadi seorang transeksual bukanlah lelucon. Ini adalah jalan yang kami pilih untuk hidup. Itulah sebabnya kami sangat senang dengan apa yang telah dilakukan pihak sekolah."

Perlakuan Normal
Pria  transjender di Kampang sendiri memang cenderung untuk menyatu dalam sebuah kelompok.  Mereka juga kerap berkumpul dan mempraktikan perilaku-perilaku yang bersifat feminin.

Saat bersekolah mereka masih memakai seragam siswa laki-laki, tetapi pihak sekolah  tidak memperbolehkan mereka bermake-up (meski ada beberapa yang diam-diam memakai lipstik dan maskara). Sedangkan untuk operasi kelamin, para siswa di sini ternyata tidak lagi memandangnya sebagai suatu hal aneh.

Walaupun ada perbedaan, para siswa transjender diperlakukan normal oleh para siswa lain atau oun para guru. Thailand sendiri dikenal sebagai negara yang memberi toleransi terhadap pria transjender  karena kehadiran mereka tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Operasi kelamin sendiri menjadi sebuah bidang spesialis dalam industri kesehatan  Thailand dan biayanya pun relatif murah. Banyak pasien dari penjuru dunia datang  untuk menjalani operasi di Negeri Gajah Putih ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau