Tujuh kader PDIP Jatim gabung ke PDP

Kompas.com - 30/07/2008, 22:52 WIB

JAKARTA, RABU - Setelah resmi menjadi peserta pemilu 2009 dengan nomor urut 16, Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) makin diminati sebagai saluran aspirasi politik. Mereka yang hengkang dari partai lama rela meninggalkan posisinya sebagai anggota legislatif.

Seperti yang terjadi pada tujuh kader PDIP yang rela meninggalkan jabatannya sebagai anggota DPRD Jatim untuk bergabung ke PDP. Dari tujuh orang tersebut, 5 orang duduk di DPRD Propinsi Jatim, yaitu Teddy Hartono Sungguh, A. Sinta Ginastono, Muhammad Ashari dan Heri Purwanto. Dua orang lainnya adalah Wakil Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Hardjio dan anggota DPRD Kabupaten Ponorogo Pudjo Widodo.

Selain itu, mantan wakil Bupati Nganjuk Djatmiko Budi Utomo, tokoh PNI lama asal Probolinggo yang selama ini menjadi sesepuh PDIP Jatim, Timbul juga bergabung ke PDP, Indah Pakarti, isteri Pemred Nusa Bali serta puluhan kader PAC PDIP Jatim.
Secara resmi mereka menyatakan kepindahannya di hadapan 4 pengurus teras PKN PDP yakni Roy BB Janis, Didi Supriyanto, Noviantika Nasution dan Faturrahman di gedung Grahapena, Jl Ahmadyani, Surabaya, Jatim, Rabu (30/7).

Mengenai alasan perpindahan mereka karena merasa partainya yang lama yakni PDIP sudah tidak bisa lagi diharapkan menjadi alat perjuangan rakyat yang ampuh untuk melakukan perubahan. Mereka melihat PDP sebagai partai yang penuh harapan dan diyakini mampu melakukan perbaikan nasib rakyat.

"Saya tidak menduga begini cepat, tapi saya dengar ini baru kloter pertama, masih akan disusul arus gelombang selanjutnya. Saya ucapkan terima kasih atas kembalinya teman-teman ke kandang banteng yang asli. Mari kita rapatkan barisan untuk menjadikan PDP sebagai alat perjuangan rakyat yang sejati," ujar Roy Janis, dalam sambutannya.

Roy mengatakan, bergabungnya 'banteng-banteng asli' itu merupakan pencerminan keinginan mereka untuk lakukan pembaruan demokrasi di Indonesia. Mereka rela meninggalkan jabatan terhormat itu kalau bukan demi terciptanya perubahan yang lebih baik.
"Ini pencerminan bahwa apa yang kita lakukan selama ini benar. Mereka bergabung dengan kami karena sudah jenuh dan tak mau disandera feodalisme," kata Roy Janis.

Bahkan, kata Roy Janis, tidak ada permintaan apa-apa dari mereka yang bergabung ke PDP. Mereka tertarik bergabung karena ingin komitmennya untuk lakukan pembaruan untuk kepentingan bangsa. "Mereka juga tidak punya target apa-apa, kembalinya ke kandang banteng asli ini tulus dan karena yakin PDP bisa bawa perubahan yang sebenarnya," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau