Septian Gantung Diri, Ingin Masuk Surga

Kompas.com - 31/07/2008, 09:14 WIB

SIDOARJO, KAMIS - Karena kasihan kepada orangtuanya lantaran gagal diterima di SMP negeri, Septian Catur Wibowo (15) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Warga RT 14/3 Desa Tawangsari, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, itu ditemukan tewas tergantung di kuda-kuda rumahnya, Rabu (30/7) sekitar pukul 11.00. Kejadian itu langsung menggegerkan warga setempat. Apalagi, Septian, bungsu dari empat bersaudara, dianggap sebagai anak yang peduli pada kesulitan ekonomi orangtuanya, pasangan Purdiono-Mujiatin, yang bekerja sebagai petani.

Septian diduga bunuh diri karena tidak ingin membebani orangtuanya dengan biaya mahal sekolah. Yang mengejutkan, dalam surat wasiat yang ditulis tangan pada selembar kertas, Septian meminta didoakan oleh orangtua dan keluarganya agar masuk surga.

Setelah meminta keterangan beberapa saksi, polisi menduga Septian gantung diri lantaran kecewa tidak diterima di SMP Negeri 3 Taman, Sidoarjo. “Dia ingin sekolah di SMPN 3 Taman, tapi gagal dan kemudian bersekolah di SMP swasta. Sepertinya korban kecewa dan merasa bersalah kepada orangtuanya,” tutur Ipda Sulistyo, Kepala Unit Reskrim Polsek Taman, Rabu (30/7). Saat ini Septian tercatat sebagai siswa kelas I SMP YPM Taman.

Gantung diri Septian pertama kali diketahui oleh neneknya, Mbah Sam. Septian menggelantung di belandar dengan tali plastik warna hijau menjerat lehernya. “Saya diberi tahu Mbah Sam, Septian gantung diri di rumahnya,” ujar Agus, seorang saksi mata.

Agus yang masih kaget mendengar informasi dari Mbah Sam langsung memberitahukan kepada sejumlah warga untuk memberikan pertolongan. Namun, warga yang datang ke tempat kejadian perkara tak bisa berbuat banyak karena Septian sudah tak bernyawa.

Sejumlah teman sekolah Septian di SMP YPM yang kemarin datang ke rumahnya mengatakan, remaja itu bercerita bahwa dirinya kasihan dengan orangtuanya yang membiayai sekolahnya. “Ia bilang kasihan dengan bapak dan ibunya karena biaya sekolahnya dianggapnya mahal. Ia ingin pindah sekolah saja,” ujar Bagus, salah satu teman sekolah Septian.

Dalam surat wasiat yang ditulisnya dengan tinta hitam di kertas putih agak kusam, Septian menyatakan permintaan maaf karena merasa banyak bersalah dan berdosa kepada orangtuanya. Lengkapnya surat wasiat dengan bahasa campuran Jawa dan Indonesia itu berbunyi sebagai berikut:

"Bu, pak, dan sekeluarga, timbangane aku duso kakean salah kale sampean, aku mati ae dengan cara iki supoyo sampean iso tenang (Bu, Pak, dan sekeluarga daripada aku berdosa karena banyak salah kepada kalian, aku mati saja dengan cara ini supaya kalian bisa tenang). Aku juga tenang di alamku sendiri. Aku doakan agar kalian semua hidup bahagia. Titip salam buat Mbak Eny, Mas Rokim, Mas Ayik, Linda, dan kalian semua dan doakan aku agar bisa masuk surga dan di terima di sisi Allah SWT, amin."

Orangtua korban hanya bisa menangis dan tampak syok berat melihat kenyataan ini. Beberapa kali ibu Septian pingsan, sedangkan bapaknya terlihat pasrah di samping jenazah anaknya yang sudah membujur kaku di ruang tengah rumah. Mbah Sam juga terus menangis.

Umurmu sek enom le, lapo mati dhisik, awakmu gurung wayae mati le (Usiamu masih muda nak, kenapa meninggal dulu, kamu belum waktunya meninggal nak)," ujar Mbah Sam sambil menangis.

Purdiono (55) sempat kaget ketika petugas menunjukkan surat wasiat anaknya. “Orangtua merasa bersalah, seakan-akan mereka menjadi pemicu bunuh diri kalau melihat isi surat wasiat itu,” tutur petugas Polsek Taman yang menunjukkan surat wasiat tersebut kepada Purdiono.

Kepada petugas, Purdiono mengatakan, dirinya tak pernah keras terhadap anak lelaki satu-satunya di keluarga itu. Namun, Purdiono mengakui dirinya memang melarang keras anaknya merokok. “Tapi, apakah ini salah karena ia kan masih SMP,” kata Purdiono seperti ditirukan petugas.

Terkait tulisan bagian akhir, yaitu Septian minta didoakan agar masuk surga dan diterima di sisi Allah SWT, Purdiono juga tidak mengetahui apa maksudnya. “Surat wasiat itu dibuat tanpa sepengetahuan orangtuanya,” katanya.

Sementara itu, Ketua YPM Taman Akhmad Makki menyangkal bahwa biaya di sekolah di bawah kelolaannya terbilang mahal. Malah, katanya, biaya sekolah di SMP YPM tergolong murah. “Kalau dijumlah total, untuk uang pangkal SMP, seragam, buku, dan keperluan sekolah lainnya besarnya hanya Rp 975.000 hingga Rp 1.250.000. Itu pun untuk siswa tidak mampu mendapat potongan 50 persen,” ujarnya.(IIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau