1500 Anak Ikut Kampanye Revolusi Putih

Kompas.com - 31/07/2008, 21:54 WIB

Laporan Wartawan Pos Kupang, Alfred Dama

KUPANG, KAMIS - Sekitar 1.500 orang anak dari berbagai tempat di Kota Kupang mengikuti kampanye mengawali revolusi putih di Kota Kupang. Aksi anak-anak tersebut ditandai dengan pawai berjalan kaki dari Jalan El Tari, depan Kantor Pengadilan Tinggi Propinsi NTT ke Gedung Olahraga (Gor) Flobamora-Oepoi, Kupang, Kamis (31/7/2008) sore.

Pawai anak-anak yang digelar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia- Pengurus Nusa Tenggara Timur, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT, Yayasan Purnama Kasih (Yaspurka)- Kupang, Bengkel Apek Kupang ini dilepas oleh Ketua Penggerak PKK Propinsi NTT, Ny. Lusia Lebu Raya dan disaksikan salah satu ketua Pengurus Nasional HKTI, Supriyatno, Sekertaris HKTI NTT Ir. Martinus Djawa dan sejumlah pengurus LSM pemerhati anak.

Ny. Lusia Lebu Raya sebelum melepas pawai kampanye minum susu tersebut mengatakan, langka yang sudah diambil oleh HKTI ini sangat baik untuk membangun generasi yang berkualitas dan karena itu patut didukung. Kegiatan tersebut juga harus berlanjut untuk menghadirkan generasi yang baik di masa mendatang.

Usai memberikan sambutan, Ny. Lusia melepas rombongan pejalan kaki tersebut dengan mengangkat bendera. Lebih dari 1500 anak-anak berusia lima hingga belasan tahun bahkan banyak juga orang dewasa dan usia lanjut. Mereka mulai berjalan membentuk barisan yang memenuhi ruas selatan Jalan El Tari. Rombongan bergerak menuju GOR Oepoi melintasi Jalan El Tari, masuk ke Jalan W.J Lalamentik  seterusnya ke kompleks GOR Oepoi.

Rombongan diterima oleh Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay. Di GOR anak-anak melakukan berbagai kegiatan permainan dan diakhiri dengan kegiatan minum susu yang sudah disediakan panitia.  Meskipun kegiatan berlangsung aman dan lancar, sempat terjadi insiden kecil yaitu beberapa anak terlepas dari pengawasan orangtua atau wali mereka. Bahkan seorang anak menangis histeris saat bingung mencari ibunya.

Sebelumnya tim kampanye Revolusi Putih menggelar diskusi di aula Yaspurka Kupang, Kamis (31/7/2008) siang. Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) HKTI, Supriyatno mengtakan, sudah saatnya Indonesia mencontohi Bangladesh, India dan China yang sukses dalam revolusi putih.

Menurutnya, dalam revolusi putih dimana setiap anak wajib minum susu,  akan muncul manfaat ganda yakni anak-anak akan mendapat protein dan gizi dari susu dan petani bisa mengembangkan ternak penghasil susu. Model usaha ini sudah sukses di Bangladesh, India dan China.

Prof. Mia Noach  dari LPA NTT mengatakan sudah saatnya semua pihak menghentikan kekerasan terhadap anak dengan memberikan susu pada anak. Menurutnya, mendapatkan makanan yang layak serta bergizi merupakan hak anak, namun selama ini hak-hak tersebut diabaikan. Bahkan, tidak memberikan hak-hak tersebut pada anak juga sudah masuk kategori kekerasan terhadap anak. "Kita ikut dalam revolusi putih ini  berarti kita menghentikan kekerasan terhadap anak. Jangan lagi kita yang tidak memberikan gizi pada anak," jelas Prof. Mia.

ALF

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau