Salon Vagina Di-Blacklist Dokter Kandungan

Kompas.com - 02/08/2008, 16:26 WIB

SYDNEY, SABTU - Semakin maraknya bedah kosmetik untuk mempercantik vagina membuat gerah para ahli kandungan Australia. Mereka pun mem-black list ahli bedah yang membuka salon vagina.

The Royal Australian and New Zealand College of Obstetricians and Gynecologists mengeluarkan pernyataan sikap, Sabtu (2/8), seperti dikutip FoxNews, bahwa semakin banyak perempuan yang menderita luka akibat prosedur bedah yang berbahaya. Bahkan banyak di antara para perempuan itu yang mengalami infeksi dan kehilangan kenikmatan berhubungan seks setelah masuk salon itu.

Sebagian besar perempuan mendatangi salon-salon semacam itu untuk 'bedah bibir' atau mempercantik penampilan 'bibir bawah, itu. Sementara yang lainnya mempersempit lubang atau memperkuat daya G-spot.

Menurut organisasi itu, salon-salon semacam itu menjalankan prosedur operasi yang berbahaya, mahal tetapi tidak terjamin. "Kami prihatin khususnya pada prosedur bedah yang mungkin akan mengeksploitasi perempuan rentan," kata pernyataan itu.

Dr Ted Weaver, ketua komite kesehatan perempuan di perguruan tinggi itu mengatakan sekarang banyak klinik, sebagian besar di Sydney dan Gold Coast yang menawarkan layanan ini. "Sebagian besar operasi itu berbiaya sampai 10.000 dollar Australia (Rp 80 juta). Itu jumlah yang sangat banyak," kata Weaver.

Weaver mengatakan, operasi ini mungkin mengincar para perempuan yang merasa tidak aman dan takut yang sebenarnya lebih membutuhkan bantuan psikologis. "Operasi-operasi ini juga tidak cukup punya dasar anatomi dan berpotensi menyebabkan luka serius," katanya.

Weaver mengatakan, ia dan rekan-rekannya kerap merawat pasien yang mengalami luka, kecacatan permanen, infeksi dan hilangnya sensasi seksual. Beberapa di antaranya membutuhkan bedah rekonstruksi.

Yang mengkhawatirkan, kata Weaver, saat ini banyak perempuan yang menginginkan operasi bibir vagina ternyata tidak paham bahwa sebenarnya ada banyak variasi bentuk luar alat kelamin.

"Ada satu kasus, seorang pria membawa foto porno dari Brasil dan mengatakan, 'Bikin pacar saya menjadi seperti ini'. Saya kira tidak etis menyetujui tindakan seperti ini," katanya.

Menurut Weaver, penguatan G-spot, dengan injeksi kolagen ke dinding vagina untuk meningkatkan kenikmatan seksual, juga kontroversial. "Seringkali tidak jelas di mana letak G-spot atau ada tidaknya titik itu pada seorang perempuan. Jadi ketika prosedur itu dilakukan tanpa verifikasi, sering berakibat munculnya masalah seksual," kata Weaver.

Daniel Fleming,  presiden Australasian College of Cosmetic Surgery, mengatakan sebagian besar pasien bedah bibir vagina senang dengan hasilnya. "Kalau ada persoalan, mereka harus menyajikan bukti, jadi kami tahu mengapa itu terjadi dan dokter mana yang membuatnya semakin rumit," kata Fleming.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau