Ada 210 Ribu Penderita Katarak Setiap Tahun

Kompas.com - 03/08/2008, 18:55 WIB

JAKARTA, MINGGU -  Menurut Data Badan Kesehatan Dunia/WHO sebanyak 1,5 persen populasi di Indonesia mengalami kebutaan, dan salah satu penyebab kebutaan adalah penyakit katarak (gangguan pada lensa mata). Saat ini setiap tahunnya di Indonesia terdapat 210.000 orang yang menderita katarak.

"Sekarang ini orang di Indonesia berumur lebih panjang, jadi pasien katarak akan bertambah banyak," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari saat membuka Pencanangan Program Sosial MATAHATI - Peduli Kesehatan Mata di Mangga Dua Square Jakarta, Minggu (3/8).

Menurut Menkes Siti Fadilah, bahkan sebanyak 10 persen anak-anak usia sekolah 5-15 tahun menderita refraksi dan memakai kacamata. "Padahal tidak semua anak mampu membeli kacamata," kata Menkes yang memandang positif program bakti sosial semacam ini.

Angka kebutaan sebesar 1,5 persen penduduk Indonesia itu adalah masalah sosial yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. "Jadi saya berterima kasih kepada semua pihak yang turut membantu mengurangi penderita katarak. Kebutaan karena katarak bisa diatasi dengan operasi dan penanaman lensa, jadi mereka akan bisa melihat kembali," kata Menkes.

Acara tersebut merupakan kerjasama Kompas Gramedia, Yayasan Lions Indonesia, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia, Hari an Guo Ji Ri Bao dan Mangga Dua Square Jakarta, dan didukung oleh Jakarta Eye Center, RS Mata Nusantara, RS Pondok Indah Jakarta, RS Mata Aini.  

 

Ikut mencegah

Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama menyatakan, masih banyak penderita katarak yang memerlukan bantuan. "Kita akan ikut mencegah kebutaan itu dengan meminta bantuan para pengusaha," kata Jakob Oetama.   

Jakob Oetama pun menyitir sebuah pernyataan bahwa sebuah bangsa yang maju karena ada kepedulian, kesetiakawanan di antara semua warga masyarakat. Tugas mengatasi persoalan kebutaan karena katarak tersebut tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi pihak-pihak yang merasa terpanggil bisa memberi bantuan. Pada masyarakat majemuk, kepedulian sosial bisa menjadi tali persaudaraan bangsa.  

"Kricikan (pancuran kecil) bisa menjadi grojogan (pancuran besar). Dimulai dari yang kecil, tumbuh, dan menjadi sesuatu yang luar biasa. Saya sebagai salah satu pengurus MATAHATI mengungkapkan terima kasih kepada Menkes, meski di hari Minggu tetap bersedia hadir," kata Jakob Oetama.

Kampanye dan pencanangan program Kesehatan Mata ini menjadi penting karena kesehatan mata dan upaya pencegahan serta penanganan kebutaan belum menjadi prioritas di dalam pemeliharaan kesehatan mata. Apalagi mayoritas dari mereka yang mengalami gangguan penglihatan berasal dari kalangan kurang mampu.

Untuk penderita katarak misalnya, banyak orang kurang mampu membayar Rp 3-7 juta untuk operasi mata. Akibatnya penderita katarak yang bisa disembuhkan setiap tahun hanya 80.000 orang, sedangkan dari tahun ke tahun akumulasi penderita kebutaan semakin besar.

Karena itu program sosial ini ditujukan bagi mereka yang kurang mampu. Mereka bisa melakukan pemeriksaan mata gratis dan mendaftar untuk operasi katarak.

Target hingga akhir tahun 2008 ini bisa mengoperasi 5.000 orang. Hingga kemarin sudah terdaftar 450 pasien, kata Ketua Umum Panitia MATAHATI St Sularto.

Mulai September 2008, aksi MATAHATI akan dilanjutkan dengan operasi katarak gratis bagi yang kurang mampu di beberapa rumah sakit. Menurut Ketua Umum Persatuan Dokter Ahli Mata Indonesia (Perdami) Tjahjono D Gondhowiardjo, Perdami akan mengerahkan anggotanya di berbagai daerah dan akan melakukan operasi secara serentak di beberapa kota.

"Teknisnya akan kami atur jadwalnya maupun rumah sakitnya. Karena sasaran MATA HATI adalah masyarakat yang tidak mampu, kami akan melakukan pendaftaran dan pendataan lewat satu pintu yaitu Yayasan Lions Indonesia," kata Tjahjono D Gondhowiardjo.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau