SUKABUMI, SENIN - Menteri Pertanian RI Anton Apriantono menginginkan adanya perjanjian kerjasama penelitian terhadap pengembangan tanaman jarak antara Indonesia dan Malaysia. Penelitian bersama akan mempercepat pencapaian target produktivitas jarak lebih dari 10 ton per hektar.
"Kalau penelitian dilakukan sendiri-sendiri, pencapaiannya akan lebih lambat sehingga kerjasama penelitian ini amat penting," kata Anton Apriantono, Senin (4/8) di Balittri Pakuwon, Kabupaten Sukabumi.
Anton dan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Datuk Peter Chin Fah Kui, bertemu di Balittri Pakuwon dalam rangka meninjau budidaya tanaman jarak. Fah Kui menyoroti soal kemungkinan penggunaan jarak transgenik untuk mendongkrak produktivitas karena jarak tidak untuk dimakan.
Namun, Dirjen Perkebunan Deptan Manggabarani mengemukakan bahwa penggunaan tanaman transgenik masih dilarang di Indonesia walaupun tidak untuk produksi makanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang