Musim Kemarau, Produksi Cabai Menurun

Kompas.com - 04/08/2008, 18:07 WIB

MAGELANG, SENIN- Produksi cabai di sejumlah desa sentra sayur mayur di Kabupaten Magelang, kini menurun. Selain karena kekeringan dan panasnya cuaca, hal ini dipicu oleh maraknya serangan hama penyakit di musim kemarau ini.

Sri Mulyani, salah seorang petani asal Desa Sewukan, Kecamatan Dukun mengatakan, pada musi m kemarau ini, produksi cabai yang sebelumnya mencapai 0,5 kilogram (kg) per batang tanaman, sekarang hanya berkisar 0,25 hingga 0,3 kg per batang.

Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh pertumbuhan tanaman yang tidak optimal. Kondisi yang dipicu oleh kekurangan pasokan air di musim kemarau ini, ditandai oleh gejala pertumbuhan tanaman yang justr u merunduk ke bawah. Selain itu, batang tanaman pun juga terlihat mengerut, dan berubah mengecil.  

"Karena batang tanaman makin mengecil, maka secara otomatis, produksi ca bai pun jauh berkurang dibandingkan saat musim penghujan," ujarnya, Senin (4/8).

Hal serupa juga dirasakan oleh Marsudi, petani asal Desa Pagersari, Kecamatan Mungkid. Terhitung sejak dimulainya musim kemarau pada akhir Mei lalu, tanaman cabai miliknya juga terlihat tidak sehat. Daun tanaman tampak berwarna coklat dan berubah keri ting. Sekalipun tidak membusuk dan mati, pertumbuhan tanaman pun terlihat stagnan karena tidak bertambah tinggi. Kondisi ini pun diikuti oleh berkurangnya produksi cabai per batang.

"Jika tanaman yang sehat mampu menghasilkan hingga 0,8 kg per batang, maka sekarang ini, per batang hanya mampu menghasilkan 0,3 kg cabai saja," terangnya.

Sujud, salah seorang petani asal Desa Gondowangi, Kecamatan Sawangan mengatakan, pada musim kemarau ini serbuan berbagai hama penyakit juga menjadi hal yang makin memperburuk kondisi tanaman cabai.  

Pada musim penghujan, tiap 1.000 meter persegi tanaman cabai biasanya mampu menghasilkan 13 kuintal cabai. "Namun, dengan banyaknya, serangan hama ini, saya pun ragu apakah nantinya areal seluas itu masih mampu menghasilkan lima kuintal cabai atau tidak," ujarnya.

Sujud memiliki satu hektar tanaman cabai keriting yang berumur 50 hari, dan diperkirakan akan dipanen September mendatang. Satu hektar tanaman cabai milik Sujud, saat ini diserang berbagai penyakit mulai dari virus bule, penyakit kuning serta serangan hama seperti tungro, tungau, dan trip. Dengan kondisi itu, maka intensitas pemberian obat-obatan pun ditingkatkan. Untuk obat bagi daun misalnya, yang sebelumnya hanya disemprotkan seminggu sekali, kini menjadi tiga kali sehari.

Kepala Pengelola Sub Terminal Agribisnis Sewukan Kecamatan Dukun, Riswanto Sudiono mengatakan, sejak Juni lalu, volume cabai yang masuk dan diperjualbelikan di STA Sewukan juga menurun. Jika biasanya dalam satu minggu, volume cabai keriting mencapai enam ton, maka sekarang ini hanya berkisar 3 hingga 3,5 ton saja. Begitupun, rata-rata volume cabai rawit merah yang sebelumnya dua ton per minggu, kini berkurang menjadi di bawah satu ton per minggu.  

Dengan kondisi itu, harga cabai pun melonjak. Cabai keriting yang sebelumnya Rp 10.000 per kg, sekarang menjadi Rp 15.500 per kg. "Begitupun harga cabai rawit merah, naik dari Rp 20.000 per kg menjadi Rp 31.000 per kg," ujarnya. (EGI)           

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau