Warga Ramai-ramai Ngebor Pipa PDAM

Kompas.com - 04/08/2008, 20:24 WIB

MAGETAN, SENIN - Warga Dusun Batokan, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan terpaksa mencuri air bersih dari jaringan pipa PDAM yang melintas di desa mereka, karena sejak satu minggu terakhir, air PDAM di rumah warga tidak mengalir.

Berdasarkan pengamatan, Senin (4/8), sedikitnya ada dua titik jaringan pipa PDAM yang dilubangi  warga. Di dua titik itulah, sekitar 200 warga Dusun Batokan secara bergantian mengantre untuk bisa mendapatkan air bersih sejak pukul 03.00 sampai pukul 00.00.

Menurut Sabar, salah satu warga Batokan, dilubanginya pipa PDAM ini karena air PDAM di rumah-rumah warga tidak lagi mengalir sejak satu minggu terakhir.  

"Debit air di jaringan pipa PDAM mengecil sehingga tidak bisa mengalir ke rumah warga yang posisinya dengan jaringan pipa lebih atas, sehingga warga melubangi pipa PDAM itu agar bisa memperoleh air . Kami tahu hal ini termasuk mencuri tetapi mau bagaimana lagi" ungkap Sabar.

Mariatun, warga Batokan lainnya, mengeluhkan kinerja PDAM Kabupaten Magetan yang tidak bisa melayani kebutuhan air bersih bagi warga Batokan. Padahal tidak sedikit warga yang baru sa ja memasang sambungan PDAM ke rumahnya dengan harapan saat kemarau tidak lagi kesulitan air.  

Tujuh bulan yang lalu saya memasang PDAM di rumah, biaya pemasangan waktu itu sampai Rp 1,6 juta. "Tetapi sudah dipasang , saya masih kesulitan air bersih saat kemarau," kata Mariatun yang setiap hari harus bangun pukul 03.00 untuk mengantre air bersih di lokasi pipa PDAM yang dilubangi warga .

Kepala Bagian Humas PDAM Kabupaten Magetan, Gunawan, mengatakan jumlah pasokan air melalui jaringan pipa PDAM ke wilayah itu sebetulnya cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih para pelanggan PDAM di Batokan.

Hanya saja, seringkali satu sambungan rumah dipakai untuk tiga sampai empat keluarga, sehingga pasokan air ke wilayah itu kurang. Debit air ke rumah warga ini semakin mengecil, atau bahkan sampai tidak mengalir, setelah jaringan pipa PDAM di wilayah itu dilubangi warga.  

Mereka yang melubangi ini sebenarnya warga yang bukan pelanggan PDAM, tuding Gunawan seraya berjanji akan menutup kembali lubang-lubang yang dibuat warga itu.

Meskipun cara yang dilakukan oleh warga ini melanggar hukum, dia mengatakan PDAM akan tetap mengedepankan langkah-langkah persuasif untuk mendorong warga agar tidak melubangi pipa PDAM saat kesulitan air. "Kalaupun pasokan air kurang, warga bisa meminta ke PDAM dan PDAM akan mengirimkan mobil tangki ke sana, " tambahnya.  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau