Kami Bukan Ojek, Bukan Angkot

Kompas.com - 05/08/2008, 12:11 WIB

Taxi tanpa embel-embel, jauh dekat Rp 10.000.
Hubungi
796-7575.  

Demikian salah satu iklan baris sederhana yang tertera di salah satu media cetak lokal Pulau Dewata. Namun, siapa sangka dari iklan ini kegemparan berawal. Pelanggannya hampir 80 persen adalah perempuan dan anak-anak sekolah.

Beberapa orang mengaku tercengang ketika benar-benar menghubungi nomor yang tertera di iklan itu. Ternyata, bukan mobil (taksi) seperti yang sudah sering beredar, melainkan sepeda motor yang dikendarai seorang pria berhelm mengenakan jaket hijau terang. "Silakan Bu, mari tiyang (saya) antar Ibu ke tempat tujuan," kata si pengedara di depan calon penumpangnya dengan senyum ramah.

Ya, pria berjaket hijau terang itu adalah penjual jasa bermerek motortaxi. Motortaxi ini menjadi taksi berkendaraan roda dua pertama di Pulau Dewata dan bisa jadi yang perdana di Indonesia.

Pengendara yang disebut operator mengenakan rompi hijau terang, helm, rapi bersepatu, di atas kendaraan roda dua dengan salah satu merek tertentu. Mereka dilengkapi helm tambahan untuk pengguna jasanya. Ciri lainnya adalah motornya dilengkapi dengan kaca pengaman di atas stir kendaraan.

Cara kerjanya hampir mirip dengan taksi. Bedanya pada penampilan dan manajemen hingga teknis di lapangannya atau operasionalnya. Apalagi dengan ojek, wah, sangat jauh berbeda. Motortaxi ini menetapkan tarif poin, yaitu sekali antar atau satu tujuan dihitung satu poin Rp 10.000. Setiap harinya, para operator diwajibkan setor Rp 30.000.

Bensin ditanggung sang operator. Tetapi jika terjadi kecelakaan atau kerusakan motortaxi, perusahaan menanggungnya mulai harga Rp 75.000. Perusahaan juga menanggung pembayaran asuransi dan cicilan motor. Kecuali, ada operator yang sekaligus berminat memiliki motortaxi, kantor menjembatani menerima angsuran Rp 300.000 per bulan dari satu unit seharga sekitar Rp 10 juta per unit.

Motor taxi ini merupakan merek dagang di bidang jasa yang terdaftar resmi di Departemen Hukum dan HAM pada Februari lalu. Merek ini menjadi satu-satunya dan pertama di Pulau Dewata maupun Indonesia. Padahal, Dek Astawa (34), pemilik merek ini mengaku awalnya hanya mewujudkan kesenangan, tidak mengejar keuntungan.

Saat itu diluncurkan perdana pada bulan ke dua tahun 2008 , motortaxi beredar sebanyak 25 unit dengan daerah operasional perdana Denpasar dan Badung. Setelah lebih dari setengah tahun meluncur di jalanan, Astawa mau tidak mau menambah menjadi 117 unit. Kini melebarkan daerah operasi di Ubud, Gianyar.

Setiap hari call center bisa menerima rata-rata 150 penelpon memesan motortaxi. Bahkan sebagian penelpon terpaksa kecewa karena tak terlayani. Penelpon ini tidak hanya dari kalangan eksekutif atau ibu rumah tangga melainkan turis asing pun ada. " Entah, para turis ini dapat info motortaxi ini dari siapa," kata Astawa.

Karena berawal dari niat kesenangan, maka pengusaha muda ini pun menjadikan bisnis motortaxinya bagaimana bisa menyenangkan orang lain baik si pengendara yang disebutnya operator serta pekerja lainnya yang dianggpnya sebagai patner. Pengelolaannya diserahkan pada Indonesia Motortaxi Coorp CV.

Astawa menyewa sebuah ruko di Jalan Padanggalak, Denpasar. Sehari-hari, kantor dikelola sekitar sembilan orang yang beberapa menjalani sebagai call centre .

Sepi. Itu kalimat yang tepat menggambarkan sebuah kantor motortaxi. "Iya, karena memang bukan tempat mangkal seperti ojek-ojek. Para operator tidak boleh mangkal dan tidak memiliki pangkalan. Mereka datang ke kantor adalah murni hanya untuk urusan setoran, pertemuan rutin, surat menyurat atau service," jelas Astawa.

Semenjak diluncurkannya taxi miliknya itu, Astawa tak henti berkreasi. Selain dia sendiri hobi bisnis, dia juga dikelilingi para operator muda yang kreatif. Lagu Meluncur Motortaxi pun muncul dari kretivitas salah satu operator yang sekaligus anggota gitaris band anak muda terkenal di Pulau Dewata, Gede Adi (27).

Adi mengaku senang dengan pekerjaannya sebagai operator motortaxi. Ia pun bangga memiliki penghasilan yang tak terbayangkan sebelumnya. Karena kepiawaiannya memanajemen pelanggannya, ia pun disegani.

Setiap hari, rata-rata pria lulusan SMA ini bisa mengantongi Rp 300.000 dari poin to poin mengantar pelanggan. Sebulan, Adi pun bisa menyetor Rp 1,2 juta, yakni Rp 900.000 sebagai setoran wajib dan sisanya merupakan cicilan motor tanpa kesulitan .

Sebelum menjadi operator, ia bekerja membantu pamannya di sebuah kios fotokopi. Sekarang ia bangga pada pekerjaannya yang bisa menghasilkan pendapatan lebih dari yang ia sangka. Ia pun sempat terpilih sebagai operator terbaik di antara teman operator lainnya.

Astawa sebagai pemilik menekankan kepada seluruh operatornya agar tetap menjaga etika dengan para pelanggan. "Mereka ini bekerja untuk diri mereka sendiri. Saya membebaskan mereka untuk mencari pelanggan sendiri tetapi yang elegan. Sekali lagi mereka bukan ojek yang tukang ompreng atau mangkal," jelasnya.

Meski mendapat kebebasan, operator tetap memiliki kewajiban atau aturan main yang harus dipatuhi. Antara lain, mereka dilarang menerima telepon sambil berkendara, mengantar pelanggan hendaknya menjalankan motor berkecepatan 60 hingga 80 km per jam, jam kerjanya pun hanya dari pukul 06.00 Wita sampai 21.00.

Setiap saat, para operator ini pun bisa mendapatkan inspeksi mendadak dari kantor. Ketahuan main-main menjalankan pekerjaan sebagai operator motortaxi, eksekutor pun tak segan mengambil kembali motortaxinya dan mencoret nama dari jajaran operator.

Karenanya, menjadi seorang operator di Indonesia Motortaxi itu sesungguhnya tidak mudah. Ia harus laki-laki berusia minimal 18 tahun dan maksimal 27 tahun. Gesit, mau bekerja keras, suka tantangan, mau belajar, tidak cengeng, hingga orang yang benar-benar ingin bekerja dan memiliki jiwa bisnis termasuk mengelola pelanggan . Astawa tetap menerapkan seleksi ketat.

Menjalani bisnis bagi Astawa adalah berpegang pada prinsip bisnis to bisnis. Termasuk bagaimana ia menularkan aura bisnis kepada seluruh pekerjanya. "Saya ingin suatu saat para operator tidak perlu lagi menyetor harian kepada saya. Tetapi, mereka hanya sebagai pengguna merek motortaxi saja karena motor sudah menjadi miliknya. Saya senang, mereka senang," ungkapnya sambil tersenyum.

Selain tarif reguler setiap poin Rp 10.000, Indonesia Motortaxi juga menawarkan beberapa paket menarik. Paket tersebut di antaranya paket wisata sepuasnya keliling Bali sejak pukul 06.00 Wita hingga 21.00 hanya dengan bayar Rp 150.000.

Namun, sesaat kemudian ia bingung soal berapa rupiah yang akan ditawarkan kepada operator ketika menggunakan merek motortaxi miliknya. "Waduh, belum terpikirkan tuh. Yang pasti harus bisa membuat semua pihak senang," lanjutnya.

Tak lupa ia selalu memberikan pesan sekaligus penyemangat kepada para operatornya. Pesannya adalah tidak ada rumus angka apa pun yang mampu membuat seseorang kaya, yang ada hanyalah lakukan penjualan maka angka akan bergerak dan seseorang menjadi kaya. "Ya, jasa yang elegan ini yang mereka jual," katanya sambil tersenyum bangga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau