Soal Capres 'PhD', Tifatul Dituding Tak Proporsional

Kompas.com - 05/08/2008, 12:31 WIB

JAKARTA, SELASA - Presiden Partai Keadilan Sejehtera (PKS) Tifatul Sembiring kembali membuat manuver. Saat menjadi jurkam di lapangan Gasibu Bandung, Senin (4/8) kemarin Tifatul mengungkapkan, selain berumur 'balita' capres yang akan diusung bertitel Doctor of Philosophy alias PhD. Pernyataan Tifatul Sembiring langsung ditanggapi oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, Selasa (5/8) sebagai pernyataan yang tidak proposional.
 
"Pak Tifatul itu berbicara tidak proporsional. Menjadi seorang pemimpin itu, adalah yang dianggap mampu menjadi pemimpin, bukan didasari atas gelar akademik. Kalau gelarnya tinggi, tapi tidak bisa memimpin bagaimana?" tanya Qodari.
 
Ia kemudian mencontohkan, Amerika Serikat yang berhasil menerapkan sistem demokrasi dalam membangun negaranya, sama sekali tidak mencantumkan gelar akademik seseorang untuk dianggap layak atau tidak sebagai calon pemimpinnya. Gelar akademik, tegasnya, bukanlah gelar yang kemudian menjadi prasarat sebagai calon pemimpin.
 
"Barack Obama saja, titelnya bukan PhD. Silahkan dicek. Masyarakat Amerika menilainya, bukan karena gelarnya, tapi dianggap figur yang bisa memimpin," kata Qodari.
 
"Capres itu adalah mencari seorang figur pemimpin, bukan mencari figur yang bertitel. Kalau bertitel tapi tak bisa mimpin, kasihan rakyatnya. Titel S3 atau apa, itu gelar akademik bukan gelar seorang pemimpin," katanya lagi.
 
Politisi muda ini kemudian juga mengkritisi banyaknya partai politik yang seakan sulit mencari calon wakil rakyatnya untuk Pemilu legislatif mendatang. Qodari menilai, hal ini disebabkan karena banyak bermunculan partai politik karbitan yang sebetulnya belum siap merekrut orang-orang yang ahli berpolitik.
 
"Banyak kader karbitan saat ini sehingga sulit untuk mencari caleg. Mencari pengurus saja susah, apalagi mencari calon anggota legislatif. Sehingga dengan jalan pintas banyak figur-figur artis yang kemudian dicalonkan, tapi belum tentu mampu menjadi wakil rakyat. Artis kemudian dijadikan dopping bagi partai politik," ujarnya. (Persda Network/yat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau