SERANG, RABU - Alat deteksi getaran atau seismometer Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda kembali berfungsi setelah lima hari mengalami kerusakan akibat panel dan aki tertutup debu.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau (GAK), Anton Tripambudi, di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Selasa (5/8) malam, mengatakan sejak pagi alat seismometer yang dipasang dilereng gunung sudah berfungsi menerima sinyal rekaman kegempaan di pos pemantauan.
Menurut Anton, dengan beroperasinya alat getaran deteksi itu petugas kini bisa melakukan pencatatan aktivitas vulkanik GAK, baik vulkanik dangkal, vulkanik dalam, tremor, letusan dan embusan.
Sejauh ini, lanjut Anton, aktivitas GAK masih dalam status waspada level II karena mengeluarkan semburan material vulkanik berupa bebatuan kerikil serta gas beracun.
Oleh karena itu, pengunjung dan nelayan hanya diberikan rekomendasi satu kilometer dari titik letusan gunung. Rekomendasi itu berdasarkan keputusan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bandung.
Dia mengatakan, sejak Kamis (31/7) alat deteksi getaran Anak Krakatau tidak berfungsi melakukan pemantauan kegempaan vulkanik.
Data pos pemantauan Gunung Anak Krakatau sepanjang Selasa tercatat vulkanik A (dalam) empat kali, vulkanik B (dangkal) 12 kali, letusan 95 kali, tremor 16 dan embusan sebanyak 90 kali.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang