PDIP Batasi Caleg Artis

Kompas.com - 07/08/2008, 18:11 WIB

DEPOK, KAMIS - Maraknya tokoh politik yang berasal dari kalangan artis menjadi perhatian khusus bagi PDIP. Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung mengatakan akhirnya partai "moncong putih" itu memutuskan untuk membatasi jumlah caleg yang berasal dari kalangan artis.

"PDIP akan membatasi caleg-caleg artis. Kita rekrut bukan karena keartisannya tapi berdasarkan perjuangannya di dalam partai," ujar Pramono usai mengikuti penutupan Konferensi Warisan Otoritarianisme di Kampus FISIP UI Depok, Kamis (7/8).

Sebut saja, kata Pramono, presenter senior Sonny Tulung yang berkarya di PDIP sejak tahun 2000, dan aktor Gugun Gondrong sejak tahun 1998. Menurut Pramono, boleh atau tidaknya artis naik ke panggung politik sebenarnya bukan masalah. Amerika Serikat saja pernah dipimpin oleh Ronald Reagan yang adalah seorang artis.

Namun, menurut Pramono, Reagan dekat dengan permasalahan masyarakat dan memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Berbeda dengan itu, tren yang berkembang di percaturan politik Indonesia saat ini merupakan kesalahan politik karena pada faktanya mereka naik hanya karena popularitas, bukan pengalaman dan kredibilitas di dunia politik.

Oleh karena itu, parpol memakai mereka untuk mendongkrak dukungan masyarakat yang mulai jengah dengan tindak-tanduk parpol. "Ini merupakan titik balik dari masyarakat yang mencibir parpol," tandas Pramono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau