PALOPO,JUMAT - Saat ini , petani kakao di sentra-sentra penghasil kakao di Sulawesi Selatan bisa mengembangkan bisnis baru yang menghasilkan tambahan penghasilan riil yang lumayan untuk menopang pendapatan mereka yang menurun akibat berkurangnya produktifitas tanaman kakao mereka. Bisnis yang bisa mereka kembangkan adalah jual beli kulit kakao dan memproduksi kompos yang bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman kakao tersebut.
Ketua Fasilitator atau Penyuluh Kelompok Tani Mappatuo, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Kisman di Luwu, Jumat (8/8), mengatakan, kompos merupakan bisnis yang menguntungkan bagi petani kakao karena dengan menggunakan kompos biaya pemuk ukan lahan bisa menurun hingga 50 persen lebih rendah dibandingkan pemupukan dengan pupuk kimia. Atas dasar itu, permintaan kompos bisa sangat tinggi di masa depan.
Meskipun dihasilkan oleh petani dan digunakan oleh petani kakao lain, kompos masih menjanjikan sebagai sebuah peluang usaha karena tidak semua petani kakao yang rajin membuat kompos sendiri. "Lama kelamaan pupuk kimia bisa saja ditinggalkan karena harga pupuk kimia, seperti urea, SP36, KCL, dan NPK sudah sangat tinggi," ujar Kisman.
Baraman, salah seorang anggota kelompok tani kakao di Bupon, mengatakan, pihaknya bisa menghasilkan kompos yang dihasilkan dari biji kakao sebanyak 40 ton dalam dua bulan. Harga jual kompos ditingkat petani mencapai Rp 500 per kilogram. Itu adalah harga promosi, sehingga lama kelamaan harganya bisa meningkat.
Untuk memproduksi kompos, Baraman dan 35 temannya harus menerima pasokan bahan baku dari petani kakao lain, yakni kulit kakao. Kelompok tani Baraman menerima kulit kakao dari petani dengan memberikan uang lelang sebesar Rp 3.000 per karung (berkapasitas 50 kilogram).
"Meskipun kami hanya menjual Rp 500 per kilogram, dan harus memberikan uang keringat pada setiap petani yang menjual kulit kakao sebesar Rp 3.000 per karung, kami masih bisa mendapatkan untung. Untuk menghasilkan kompok 40 ton, kami harus mengeluarkan modal Rp 10 juta, tetapi dengan menjualnya pada harga Rp 500 per kilogram, kami masih mendapatkan Rp 20 juta , artinya penghasilannya adalah dua kali," kata Baraman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang