Tanggal 8 Agustus 2008 Dianggap Istimewa

Kompas.com - 08/08/2008, 10:00 WIB

JAKARTA, JUMAT - Setiap tahun ada hari yang dianggap istimewa atau sakral oleh sebagian penduduk dunia. Kali ini, tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 menjadi hari istimewa. Bisa lebih istimewa lagi bila ditambah dengan waktu, pukul 08.00.

Sebagian orang percaya bahwa menikah pada angka 080808 tersebut akan mendikan rumah tangganya nyaman, tenteram, aman, dari penuh berkah kelak. Buktinya, para calon pengantin, terutama di Jakarta, memperebutkan momentum langka itu untuk dijadikan hari pernikahannya. Tak aneh jika kantor urusan agama (KUA) kewalahan melayani permintaan itu.

Tapi tidak semuanya bisa bernasib baik mendapatkan momentum itu. Tentu saja itu karena faktor keterbatasan jumlah penghulu di KUA. Semisal di KUA Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pasangan Dani  Triwahyudi dan Heni Yunita terpaksa menikah tanggal 6 Agustus karena tak kebagian jatah untuk menikah di momentum sakral itu. "Penuh semua. Saya mendaftar untuk menikah sejak dua bulan Ialu. Dan sudah ditutup untuk tanggal 8 bulan 8 tahun 2008," kata Dani yang bekerja di perusahaan media cetak kawasan Kebayoran lama, Jakarta Selatan, saat dihubungi kemarin.

Dani menambahkan, bukan saja KUA yang kewalahan saat menerima pengajuan menikah, gedung-gedung resepsi pernikahan pun sudah habis dipesan. Lantaran dua hal itulah Dani dan Heni terpaksa mengatur ulang tanggal dan lokasi pernikahan. Jadilah mereka menikah dua hari sebelum momentum yang dianggap istimewa ini.

Permintaan menikah pada 080808 di KUA Kebon Jeruk melonjak drastis, yaitu mencapai 31 pasang (periode Juli). "Padahal sehari-hari antara 5-6 pasangan saja," tutur Kepala KUA. Kebonjeruk, H Sukri, saat dihubungi Warta Kota kemarin. Dia menambahkan, saking kewalahannya, KUA hanya mengabulkan enam pasang saja yang bisa dilayani menikah pada masa itu.

Sukri mengakui bahwa kenaikan jumlah pasangan yang menikah pada kuartet delapan karena keunikannya. Momentum tersebut akan menjadi saat paling indah dan mudah dikenang oleh pasangan yang menikah."Jadi tidak ada hubungannya dengan angka keberuntungan yang mendatangkan rezeki lebih banyak " ujarnya.

Kepala KUA Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Zahriul Wildan, mengatakan ada 12 pasangan yang mendaftar ke kantornya untuk dinikahkan pada Jumat tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Bahkan selain memilih tanggal, bulan, dan,tahun yang serba 8 tersebut, beberapa pasangan juga ingin dinikahkan tepat pada pukul 08.00. Tapi karena penghulu di KUA Menteng hanya ada empat termasuk maka hanya ada empat pasangan saja yang bisa  kami kabulkan untuk menikali pada pukul 8 tanggal 8, bulan 8, tahun 2008 ini," ujarnya.

Menurut Zahrul, jumlah pasangan menikah pada 080808 lebih banyak dibanding pada tanggal yang dianggap keramat yakni tanggal 7 bulan 7 tahun 2007. "Tahun lalu hanya ada10 pasangan yang minta dinikahkan pada tanggal, bulan, dan tahun yang sama, termasuk artis Irfan Hakim. Sedangkan tahun ini ada 12 pasangan," ujarnya.

Menurut Zahrul, dari 12 pasangan yang minta dinikahkan pada tanggal tersebut sebagian besar adalah warga Menteng, Jakarta Pusat. Sedangkan sebagian lainnya adalah warga lain yang menikah di wilayah Menteng. "Jadi mereka mendaftarkan ke KUA ini," katanya.

Ia mengatakan, dari pengakuan beberapa pasangan mereka memutuskan menikah di tanggal unik tersebut semata-mata untuk mengingat tanggal dan karena dianggap keramat keberuntungan. "Dalam Islam pun tak ada hari baik yang bergantung pada tanggal, bulan, dan tahunyang mesti sama. Yang ada, hari baik untuk menikah dalam Islam adalah hari Jumat. Dan mungkin saja karena kebetulan pada tanggal dan bulan tersebut harinya Jumat," ujarnya.

Selain itu, kata Zahrul, ada satu pasangan yang ternyata menikah di tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 tersebut hanya karena faktor kebetulan saja, yakni karena pada tanggal tersebut gedung yang mereka inginkan tak ada yang menyewa. (Warta Kota/bum/ito/ver)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau