LIVERPOOL, JUMAT - Liverpool punya sejarah bagus di Liga Champions. Catatan indah ini rupanya menjadi beban bagi pelatih The Reds, Rafael Benitez. Benitez mengaku, turnamen ini selalu membuatnya susah karena ia selalu terbebani untuk menjadi juara.
The Kop sudah lima kali menggaet gelar tertinggi di Eropa itu, empat di antaranya terjadi ketika ajang tersebut masih bernama Piala Eropa. Terakhir kali mereka menggondol trofi terbaik Eropa pada 2005 dan hampir mengulanginya dua tahun kemudian. Itulah sebabnya klub yang sudah berdiri sejak 1892 itu selalu disegani lawan-lawannya di benua tersebut.
Gelar juara Liga Champions itu seolah menjadi obat bagi penduduk Kota Liverpool selama hampir dua dekade ini. Sebab, prestasi Steven Gerrard dkk di Liga Inggris justru jeblok. Mereka sama sekali belum pernah merebut gelar kampiun Premier League, liga antarklub Divisi I di Inggris sebagai pengganti Liga Inggris pada 1993. The Kop terakhir kali juara Liga Inggris pada musim 1989/90.
Benitez sendiri mengakui, susah bagi timnya meruntuhkan dominasi Manchester United dan Chelsea di liga lokal. Oleh karena itu, setiap tahun ia berusaha mengincar juara Liga Champions seperti yang diharapkan para penggemar.
"Dalam beberapa hal itu sangat sulit karena harapan penggemar begitu besar. Kemudian kami memenangi Piala Super Eropa dan Piala FA dan tiba-tiba semua orang bilang, 'OK, langkah selanjutnya juara Premier League.'," kata Benietz kepada Times.
"Ketika kamu tidak memenanginya (gelar Liga Inggris), orang bilang, ’Oh, kamu tidak bisa juara di musim selanjutnya,’ sehingga, mungkin, mereka mengharapkan gelar yang lebih tinggi tapi karena banyak tim di sekitar kami yang bergerak bagus, itu tak semudah yang dibayangkan," lanjutnya.
Beban juara Liga Champions muncul sejak Benitez pertama kali menangani The Reds dan langsung merebut gelar juara turnamen itu pada tahun pertama kepelatihannya. Gelar itu membuka sejarah indah pasukan Anfield setelah 21 tahun menunggu gelar terhormat di Eropa tersebut. Meski merasa terbebani, Benitez menganggap kepercayaan para fans merupakan sebuah bentuk penghargaan besar pada jerih payahnya.
"Musuh terbesar kami mungkin adalah kami sendiri, tapi tentu saja saya suka dengan masalah itu, menjadi pemenang Liga Champions. Orang-orang kini bicara tentang mengapa kami tidak pernah memenangi liga selama 18 tahun, tapi perlu waktu 21 tahun (untuk menang Liga Champions) sejak klub ini meraih Piala Eropa," tambahnya.
"Kuncinya bukan mengatakan bahwa kami dapat merebut gelar karena jelas itu liga tersulit di dunia. Lihat final Liga Champions musim lalu, antara Chelsea dan United, yang merupakan klub teratas di Inggris," pungkasnya. (AP)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang