Bunyi raungan sirine sempat mengagetkan pengunjung pameran riset inovasi dan teknologi, Ritech Expo 2008, di Jakarta, Jumat (8/8). Ternyata, bunyi itu berasal dari detektor longsor jinjing buatan dosen Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta.
Alat dan penelitinya sempat ditahan keamanan saat hendak menaiki tangga pesawat di Bandara Adisucipto. ”Dikira bawa bom,” kata geolog UGM Dwikorita Karnawati, Jumat (8/8).
Dari kaca bening di salah satu sisi kotak terlihat alat pengukur, meteran, kompas, dan kabel. Mirip komponen alat peledak.
Para peneliti menamainya ekstensometer. Alat sebesar tape mini compo itu bekerja mendeteksi gerakan muka lereng rawan longsor.
Di lapangan, kotak ini terhubung sirine dan dipasang di atas media datar disangga pipa. Terpisah oleh retakan tanah pemicu longsor, tiang penyangga ditanam terpisah terhubung pipa berisi kawat atau benang nilon.
Sirine akan berbunyi otomatis saat merespons pergeseran retakan tanah mengarah longsor pada hitungan sentimeter. Kawat/benang nilon mengirim pesan adanya gerakan.
Menurut Dwikorita, teknologi sederhana itu menyelamatkan ratusan warga Desa Kalitlaga, Banjarnegara, Jawa Tengah, ketika longsor awal November 2007 lalu—sirine berbunyi empat jam sebelum longsor.
Murah dan sederhana
Sejak alat perdana selesai dibuat pertengahan 2007, kini telah dipasang di dua kecamatan di Jateng dan Jawa Timur. Dalam waktu dekat, Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) akan memasang di Karanganyar, Jateng. ”Itu proyek percontohan yang kami fasilitasi,” kata Sri Hartiatin dari BNPB.
Pembuat desain sekaligus pembuat ekstensometer yang juga dosen Fakultas Teknik UGM Teuku Faisal Fathani mengatakan, satu set alat (satu ekstensometer dan panel sirine) nilainya Rp 7 juta. Harga bisa berkurang bila diproduksi massal.
Sejauh ini, beberapa komponen dibuat dan dirakit di industri rumahan. ”Kami mengalibrasinya di laboratorium,” kata dia. Semua komponen ada di dalam negeri, seperti kompas, water-pass, meteran, dan penunjuk posisi (angle meter).
Untuk satu lokasi rawan longsor dengan luas 75-100 hektar diperlukan satu unit sistem detektor; terdiri atas tiga ekstensometer manual plus sirine, dua ekstensometer otomatis plus sirine, dan satu alat pengukur curah hujan otomatis plus sirine.
Ekstensometer manual murni merupakan temuan baru, sedangkan ekstensometer otomatis terinspirasi alat sejenis dari Jepang. Hanya saja, produksi Jepang harganya hampir Rp 100 juta. Kini dikembangkan alat sejenis yang bisa ditanam di bawah tanah. ”Sehingga tidak terganggu mobilitas apa pun,” kata Faisal. Pada usia pengembangan terbilang singkat, alat ini menjanjikan fungsi maksimal menyelamatkan warga dari bencana. Sebuah inovasi kreatif memang....
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang