JAKARTA, SABTU - Rencana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membuat baju khusus para koruptor ternyata tak sepenuhnya mendapatkan respon positif.
Beberapa hari lalu, Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, M. Jasin menyatakan niat pihaknya untuk mendesain satu baju khusus koruptor atau memborgol mereka saat akan menjalani pemeriksaan dan persidangan. Tujuannya, untuk memberikan efek jera dan menimbulkan budaya malu.
Rencana itu, bagi Budayawan Radar Panca Dahana hanyalah sebuah ide yang muncul dari cara berpikir showbiz. "KPK sama saja dengan artis murahan. Jadi, untuk menangani koruptor yang persoalan serius begitu, yang dipikirkan penampilannya, borgol dan baju tahanan. Itu tidak akan memberikan efek jera, kalau cuma dikasih baju. KPK ini sepertinya, konsumsinya konsumsi TV, gambar dan koran. Cara berpikir KPK, cara berpikir showbiz," kata Radar di Jakarta, Sabtu (9/8).
Salah satu upaya menimbulkan efek jera, menurutnya hanya dengan memberikan hukuman yang setimpal dan seberat-beratnya kepada para koruptor. Selama ini, hukuman yang diberikan dinilai Radar belum mampu menjerakan.
"Korupsi 1 miliar, 7 miliar, 2 triliun dihukum cuma 5 tahun. Mana ada yang jera? Jadi jangan memberikan efek jera, dengan simbolik-simbolik murahan. Dengan cara ini, KPK kalau mengelola artis, ya artis dangdut," katanya.
Namun demikian, ia mengapresiasi kerja dan prestasi KPK memongkar berbagai kasus korupsi. "Saya anggap Antasari Azhar itu pahlawan. Tapi ya itu, tindakannya yang cerdas dong. Ide kok baju, itu udah kaya komik. Lama-lama baju koruptor jadi mode fashion," ujar Radar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang