Bayi AIDS Telantar Setahun di RSUD Dr Soetomo

Kompas.com - 09/08/2008, 14:25 WIB

SURABAYA, SABTU - Malang benar nasib Raihan. Bayi laki-laki ini sejak setahun lalu ditinggal begitu saja oleh ibunya di RSU Dr Soetomo, Surabaya. Tragisnya lagi, bayi yang umurnya diperkirakan tinggal setahun lagi ini, ketika ditinggalkan sudah tertular HIV/AIDS.

Menurut dr Agus Harianto SpA(K), dokter spesialis anak yang bertugas di IRNA Anak, Raihan tiba di RSU Dr Soetomo pada September 2007. “Dia hampir satu tahun lebih dirawat di IRNA Anak ini,” ujarnya, Jumat (8/8).

Saat tiba, diperkirakan usia Raihan ketika itu sekitar tiga bulan. Bulan Mei 2008, usia Raihan diperkirakan genap satu tahun.

Saat tiba di RSU Dr Soetomo, Raihan masih bersama ibunya, yang diduga adalah pasien di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI). Namun, ibunya kabur begitu saja. Karena lama ditunggu tidak kembali, oleh petugas UPIPI Raihan diserahkan ke IRNA Anak.

Sebelumnya, dokter dan para perawat di UPIPI dibantu para aktivis anti-HIV/AIDS melacak keberadaan orangtua atau keluarga Raihan yang diduga ada di Gempol, Pasuruan, tapi usaha itu gagal. Diduga, Raihan tertular virus AIDS dari ibunya sejak dia masih di kandungan.

Akhirnya, Raihan menghabiskan hari-harinya di ruang IRNA Anak. Namun, kehadiran Raihan yang telah diketahui menderita AIDS sering kali diprotes pasien maupun keluarga pasien lain yang menjalani rawat inap di IRNA Anak. Mereka menolak keberadaan pasien tertular AIDS di sekitar mereka.

“Kami sempat repot, sementara kami kan tidak boleh menolak pasien. Bagaimanapun dan apa pun itu penyakitnya,” kata dr Agus.

Akhirnya, bayi Raihan dipindah ke ruang Isolasi IRNA Anak. Di tempat itu, Raihan memiliki tempat tidur kecil beserta mainan, layaknya anak kecil lainnya. Beberapa perawat iba melihat Raihan karena tak pernah mendapatkan kasih sayang keluarga. Sementara para perawat atau dokter tak mungkin membawanya atau mengadopsinya seperti layaknya anak sehat.

“Jadi, kami pun mengasuh dan merawatnya berdasarkan pengetahuan kami dalam merawat penderita positif AIDS,” ungkap Ninik Muriwati, salah satu perawat.

Dikatakan Ninik, untuk perawatan Raihan, proses pengobatan dan pemberian nutrisinya tak boleh terlambat. Hal inilah yang menjadi masalah bagi para perawat, terutama susu formula yang harus diberikan. Para perawat di IRNA Anak akhirnya harus urunan dalam membelikan susu. Apalagi susu untuk Raihan juga harus khusus agar tidak membuat dia diare.

Virus AIDS memang telah membuat tubuh Raihan sering mengalami diare, demam, sesak napas, dan batuk. Sebanyak apa pun susu formula yang diminum maupun makanan lunak yang diberikan, sering kali tidak membuat tubuh Raihan tambah gemuk. Dia tetap saja kurus dan lemah.

Umurnya Tinggal Setahun
Penyakit yang diderita Raihan memang belum ada obatnya. Perawatan yang dilakukannya di IRNA Anak hanyalah memberinya sedikit waktu untuk hidup. Menurut beberapa dokter, dengan kondisi penyakit penyerta Raihan yang saat ini seringkali kambuh, seperti diare, sesak napas, batuk, dan demam, kemungkinan Raihan untuk hidup lebih panjang lagi menjadi kecil.

“Kalau perhitungan secara medis, hanya bisa (berumur) satu tahun lagi. Tapi hanya Tuhan yang punya kehendak. Tidak ada yang mengalahkan-Nya, termasuk medis,” jelas dr Agus.

Menurut dr Agus, pihaknya bersama perawat terus mencoba memberi nutrisi kepada Raihan agar balita itu bertahan. Harapan para perawat, Raihan bisa mendapat tempat pengasuhan dan penampungan yang lebih layak.

“Ada perawat yang paling telaten merawat Raihan. Bahkan, kalau dia tidak sibuk atau libur dia mengajak Raihan ke rumahnya untuk sekadar membuat psikologis Raihan termotivasi,” ungkap dr Agus.

Jumat (8/8) kemarin, rombongan Khofifah Indar Parawansa sempat memerhatikan Raihan, tapi hanya sebentar. Itu terjadi ketika calon gubernur (cagub) Jatim itu sedang mengunjungi dua bayi kembar siam di IRNA Anak.

Kemarin Raihan mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek warna hijau muda, terlihat tercenung dalam gendongan perawat. Ketika beberapa perawat dan wartawan berusaha ikut menggendongnya, Raihan terlihat pasrah. Ketika ditimang dan diajak bicara, Raihan terlihat tanpa respons. Tapi begitu seorang perawat yang telah dikenalnya menjulurkan tangannya, Raihan langsung memajukan tubuhnya ingin digendong. Sementara tangan kiri Raihan menggenggam sepotong biskuit.

Tentang keinginan perawat agar Raihan mendapat tempat penampungan yang layak, Direktur RSU Dr Soetomo Dr dr Slamet R Yuwono DTM&H MARS mengaku masih mengusahakannya. Salah satunya dengan menganggarkan dana untuk pembuatan ruang khusus perawatan bagi bayi positif AIDS. “Mereka tetap akan mendapatkan pelayanan pengobatan dan pelayanan layak. Rencananya di lahan kosong yang ada di belakang IRNA Anak,” jelas dr Slamet.

Selama di IRNA Anak, keberadaan Raihan juga tak luput dari kunjungan berbagai pihak. Banyak yayasan sosial datang kemudian memberikan sedikt bantuan untuk Raihan. Namun hal itu tidak banyak. Mereka juga sering menjanjikan untuk mencarikan tempat penampungan lebih layak untuk Raihan. “Tapi itu hanya janji saja. Sampai saat ini belum ada satu pun yang merealisasikan,” ungkap seorang perawat.

Yeni, aktivis HIV/AIDS yang sering berada di UPIPI, mengaku belum tahu tentang keberadaan Raihan. “Tapi setiap kali ada bayi atau anak yang positif HIV/AIDS kami ikut membantu dengan mengingatkan keluarganya saat waktunya berobat atau pengurusan administrasi pengobatan bagi mereka,” ungkap Yeni.

Yeni berjanji akan menengok Raihan. “Kalau mungkin ada yang bisa kami bantu, tentu akan kami bantu. Kalau yang dibutuhkan tempat penampungan, kami akan coba bantu mencarikan,” kata Yeni.

RIE

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau