JAKARTA, SABTU - Kejadian Luar Biasa (KLB) kolera dan diare di Papua dalam beberapa bulan terakhir ini menelan korban jiwa 105 orang. Untuk itu, Departemen Kesehatan menerjunkan tim untuk melakukan investigasi epidemiologi dan surveilans, memberi pelayanan kesehatan di Puskesmas, mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium, mengirimkan logistik, serta melakukan penyuluhan kepada masyarakat.
Secara kumulatif, korban meninggal akibat diare dan kolera sejak April hingga awal Agustus 2008 berjumlah 105 orang. Sebelumnya korban meninggal dilaporkan sebanyak 94 orang. Tambahan 11 kasus (10 kasus lama tetapi terlambat dilaporkan dan 1 kasus baru) diterima Pusat Komunikasi Publik dari Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan pada Sabtu ini.
Sejak April hingga Juli 2008 terjadi KLB Diare-Kolera di dua kabupaten, yaitu Nabire, tepatnya di Distrik Kammu dan Distrik Kammu Utara, serta Kabupaten Paniai, Distrik Obano dan Distrik Yatamo, Provinsi Papua. KLB Diare-Kolera d i Nabire mengakibatkan 666 sakit, 97 orang diantaranya meninggal. Korban meninggal paling banyak di Distrik Kammu yaitu 66 orang. Sampai 28 Juli lalu, KLB masih berlangsung, terutama menyerang Desa Igebutu dan Desa Boobutu di Distrik Kammu.
Sementara di Kabupaten Paniai ada 52 kasus, 8 orang diantaranya meninggal. Kasus terbanyak ditemukan di Distrik Obano, yaitu 46 kasus. Kasus terakhir ditemukan tanggal 13 Juli 2008 dan tidak ditemukan lagi kasus baru hingga kini. "Sekarang angka kasus kolera dan diare sudah menurun," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Nyoman Kandun, saat dihubungi Sabtu (9/8), di Jakarta.
Pengambilan sampel usap dubur yang dilakukan baik dari penderita maupun keluarga yang kontak dengan penderita, menunjukkan positif terinfeksi vibrio cholera tipe Ogawa. "Jadi, KLB diare dan kolera terjadi karena sumber-sumber air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga tercemar mikroba E choli dan jenis mikroba lain yang berasal dari tinja manusia," ujarnya.
Tingginya angka kematian ini disebabkan keterlambatan saat berobat karena masyarakat beranggapan jika masih bisa beraktivitas maka dianggap belum sakit. "Selain itu, banyak pasien terlambat mencapai sarana kesehatan karena jauhnya jarak tempuh dan hanya bisa dicapai dengan jalan kaki selama empat jam," kata Nyoman Kandun. Penyebab lain adalah, keterlambatan penanganan medis lantaran puskesmas pembantu dan bidan desa tidak dapat memberikan infus pada pasien.
Berdasarkan hasil pengamatan, Tim Penanggulangan KLB juga mengidentifikasi faktor risiko di masyarakat setempat yaitu masih rendahnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Kebisaaan minum air mentah, tidak biasa mencuci tangan sebelum makan, jarang mandi dan berganti pakaian, biasa buang air besar di kebun, serta memiliki kebiasaan mencium penderita yang meninggal.
Untuk memantau situasi terkini, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes masih memantau dan mengamati di lokasi terjadinya KLB diare dan kolera itu. Selain itu, pelayanan kesehatan diberikan dengan melaksanakan pengobatan massal yang berpusat di Desa Ekamadina, menempatkan tenaga dokter di Desa Bomomani dan Modio.
Upaya lain yang dilakukan adalah memberikan pelayanan kesehatan, melakukan pengobatan massal yang berpusat di Desa Ekamadina, menempatkan tenaga dokter di Desa Bomomani dan Modio. Selain itu tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga mengupayakan pembatasan sementara waktu bagi warga setempat yang akan mengunjungi Nabire terutama ke Distrik Monemani, kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily S Sulistyowati, dalam siaran pers.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang