Evakuasi Pesawat Jatuh Dimulai

Kompas.com - 11/08/2008, 08:11 WIB

TIMIKA, SENIN - Evakuasi pesawat Pilatus Porter PC-6 PK-RCZ milik Associated Mission Aviation atau AMA mulai dilakukan Senin pagi ini (11/8) oleh tim SAR dari Pangkalan Udara TNI AU Jayapura. Evakuasi yang direncanakan dilakukan Minggu kemarin batal dilakukan karena maskapai Airfast Indonesia urung membantu evakuasi. Dalam kecelakaan ini pilot asal Amerika Serikat, Dave Clapper tewas.

Menurut rencana awal, AMA meminta bantuan Airfast untuk evakuasi. Permintaan ini disanggupi Airfast dengan mempersiapkan pesawat kecil . Tiba-tiba, Minggu siang, perusahaan yang disewa PT Freeport Indonesia ini membatalkan kesanggupannya.

Pembatalan dilakukan Freeport dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan penerbangan. Karena pemberitahuan mendadak, AMA tidak sempat meminta tolong tim evakuasi lain. Sedangkan hari sudah mulai siang dan wilayah jatuhnya pesawat di pegunungan Kabupaten Tolikara Papua telah tertutup kabut. Maka evakuasi mulai dilakukan Senin pagi ini oleh SAR Jayapura dari Pangkalan Udara TNI AU Sentani.

Kemarin pagi, sebuah heli misi telah diberangkatkan dari Bandara Wamena Kabupaten Jayawijaya untuk mengecek sekitar lokasi pesawat jatuh. Sekitar pukul 09.00, satu orang awak heli misi sempat turun ke lokasi kejadian dan menemukan bangkai pesawat dan jenazah pilot Dave Clapper. Lalu, heli pulang ke Wamena karena tidak dapat berbuat apa-apa, ujar Norbert, Aviation Manager AMA, Minggu (10/8), ketika menghubungi Kompas dari Wamena.

Dave Clapper (40) berkewarganegaraan Amerika Serikat dan meninggalkan isteri dan tiga anak di Wamena. Pada hari nahas Sabtu siang, ia terbang mengikuti rute penerbangan Wamena Taipe II Sedundu. Dari Taipe II , ia berangkat pukul 11.06 menuju Sedundu tanpa penumpang. Beberapa saat kemudian, pesawat berbaling-baling satu ini hilang kontak dengan bandara sekitar.

Heli misi di Timika yang kebetulan terbang di sekitar lokasi berhasil menangkap sinyalnya di sebelah barat Kampung Sedundu. Informasi penemuan sinyal pesawat ini diteruskan ke AMA Jayapura. Oleh AMA, informasi ini diteruskan kepada PT Airfast Indonesia untuk meminta bantuan evakuasi korban. Sabtu pagi, Airfast telah mempersiapkan pesawat kecil untuk membantu AMA.

Tiba-tiba, Freeport menahan agar Airfast membatalkan rencana evakuasi. Juru bicara Freeport, Mindo Pangaribuan mengakui Freeport tidak mengizinkan Airfast segera memberikan bantuan karena faktor keamanan dan keselamatan. Namun, ia enggan merinci alasannya itu.

Norbert mengatakan AMA kecewa dengan PT Freeport Indonesia yang menghalangi Airfast untuk membantu mengevakuasi pesawat. Keberadaan pesawat AMA sangat dibutuhkan warga Papua karena satu-satunya sarana transportasi perintis menuju pedalaman yang terisolir .  

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau