JAKARTA, SENIN — Harga minyak yang melorot memang mesti disiasati. Soalnya, "emas hitam" ini membuat harga komoditas unggulan macam minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan karet ikut-ikutan luruh.
Makanya, pemerintah mendorong peningkatan volume ekspor CPO dan kakao. "Menurut saya, karet tidak akan terlalu turun harganya. CPO memang turun di bawah 800 dollar AS per ton dari 1.100 dollar AS per ton. Tapi kan bisa diatasi dengan peningkatan volumenya," kata Menteri Perdagangan Mari Pangestu seusai membuka Rapat Kerja Departemen Perdagangan 2008 di Jakarta, Senin (11/8).
Turunnya harga minyak bumi hingga 115 dollar AS per barrel dari sebelumnya yang menembus harga 140 dollar AS per barrel telah memengaruhi harga ekspor CPO. Namun, menurut Mendag, komoditas lainnya seperti karet tetap tidak terpengaruh.
"Yang fluktuasinya paling tinggi itu terjadi pada CPO, tapi di luar itu tidak seperti itu (tidak anjlok harganya). Karet pertumbuhan ekspornya masih tinggi, yaitu sekitar 38 persen," jelasnya.
Mari Pangestu mengaku, meski pertumbuhan ekspor nonmigas semester II-2008 tidak sebaik pada semester I yang rata-rata di atas 20 persen, ia tetap optimistis pertumbuhan ekspor minimal 12-14 persen bisa terlampaui. "Semoga dengan realisasi investasi di berbagai bidang dan relokasi pabrik sepatu dari RRC bisa mendorong kinerja ekspor nonmigas," ujarnya.