Oleh Wartawan Kompas.com, IGN Sawabi
JAKARTA - Mulai Selasa (12 Agustus hingga 16 Agustus) di Bentara Bedaya Jl Palmerah Selatan Jakarta Pusat digelar Pameran Keris Zaman Kamardikan. Ratusan keris dari berbagai pelosok Asia Tenggara dipamerkan.
Selain menggelar pameran, di sisi lain gedung yang sama juga digelar bursa keris dan berbabagai benda seni senjata tajam bikinan lama. Malihat antusiasme pengunjung, bisa ditarik kesimpulan bahwa keris berikut benda-benda "sakti" itu masih memiliki penggemar.
Dalam bursa keris, ada beberapa keris yang ditawarkan hingga mencapai Rp 40 juta. Tetapi ada juga yang berharga satu jutaan. Dihadirkannya ratusan keris di rumah budaya milik Kompas Gramedia itu, mau tak mau mengajak kita semua untuk sebentar berwisata ke masa lalu.
Keris, dengan segala cerita, legenda magisnya masih tetap eksis hingga kini. Meski demikian, keris dalam perkembangannya dikoleksi bukan lantaran kesaktian atau harapan dari kolektornya untuk mendapatkan "sesuatu", tetapi keindahan dari fisik keris menjadi semakin dominan.
Sesungguhnya, dalam proses pembuatannya keris tidak beda dengan benda-benda seni kriya lain, seperti ukir (batu, kayu, tulang, besi). Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris atau tombak dan pedang.
Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tetapi dampak lain juga memunculkan sikap keengganan. Tidak semua orang mau mengoleksi keris sebagai benda seni, karena takut. Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu.
Zaman orde baru, hampir setiap menteri mengoleksi keris. Dan tak urung melahirkan percandaan, "Biar dianggap memahami budaya, karena boss-nya kebetulan orang Jawa dengan berbagai isu tentang kejawaannya."
Kisah-kisah heroik atau magis tentang keris selalu muncul dari zaman ke zaman. Kisah keris Empu Gandring, sangat erat dan dekat dengan pola pemilihan kepemimpinan di masa Singasari. Siapa yang menguasai keris itu, akan menjadi raja Singasari. Namun, siapa yang menguasai keris itu, akan terbunuh oleh keris itu juga.
Keris pesanan Ken Arok, yang kemudian menjadi raja Singasari yang pertama, di besalen (studio keris) Empu Gandring sudah menjadi sebuah mitos. Bahkan di kalangan pakar keris pun, ujud keris itu seperti apa masih terjadi silang pendapat.
Di lingkungan keluarga Empu Supa yang hingga kini masih menekuni profesi sebagai pembuat keris, Keris Empu Gandring sebenarnya belum selesai dikerjakan. Namun karena laku prihatin Empu Gandring atau karena kutukan Empu Gandring pulalah keris itu menjadi sangat sakti dan populer. Tetapi keris itu sesungguhnya bernama apa, tidak ada yang tahu. Kebanyakan hanya menyebut keris Empu Gandring.
Kisah Keris Tuding Sumelanggandring juga tidak kalah serunya. Di era Brawijaya pertama, kerajaan Majapahit kehilangan keris bernama Tuding Sumelanggandring. Lalu diutuslah Jaka Supa yang saat itu hendak mendaftar sebagai abdi dalem di kerajaan itu. Dikisahkan dalam perjalanan pencarian keris itu, Jaka Supa akhirnya mendapatkan wisik dari Tuhan Yang Maha Esa, bahwa keris itu berada di tangan Adipati Siung Laut di Blambangan. Bergegaslah Jaka Supa ke Blambangan.
Berkat keahlian Jaka Supa dalam memproduksi keris-keris model baru, Adipati Siung Laut terpikat. Bahkan Adipati itu memerintahkan Jaka Supa untuk membuat duplikat (mutrani) keris Tuding Sumelanggandring. Misi Jaka Supa akhirnya berhasil. Jaka Supa meminta agar tidak ada orang yang mendatangi besalennya saat dia mengerjakan pesanan Adipati Siung Laut, meski saat itu Jaka Supa sudah menjadi menantu Adipati itu. Jaka Supa sangat setia kepada rajanya di Majapahir, ketimbang terhadap mertuanya di Blambangan. Ternyata Jaka Supa tidak hanya membuat satu duplikat, melainkan dua. Sedangkan keris yang asli disimpannya di paha yang tertutup kain.
Lalu dua keris palsu itu dipersembahkan kepada mertuanya. Adipati Siung Laut gembira, karena kini dia punya dua keris kebanggaan Majapahit yang sangat sakti. Selesai mengerjakan keris itu, Jaka Supa secara diam-diam meninggalkan Blambangan.
Kisah selanjutnya, Jaka Supa diangkat menjadi salah satu pangeran dengan gelar Pangeran Sendangsedayu. Cita-cita Siung Laut untuk menggeser kekuasaan Majapahit ke Blambangan akhirnya gagal total.
Keris buatan Pangeran Sendangsedayu memiliki ciri pada pamor yang sangat halus. Dan keturunan Pangeran Sendangsedayu ini pulalah yang hingga kini masih melanjutkan pembuatan keris, disamping empu-empu keris dari keturunan empu lain atau pembuat keris yang bukan keturunan empu, yang masih mempertahankan tradisi itu.
Dalam dunia pewayangan, cerita-cerita kehebatan tentang keris menjadi sangat dominan. Hampir setiap tokoh wayang memiliki senjata berupa keris. Wayang purwa dengan kisah Mahabarata dan Ramayana yang berkembang sejak zaman Majaopahit akhir dan masuknya peradaban Islam, menempatkan keris sebagai benda yang begitu penting.
Empu-empu keris dalam kisah pewayangan hanya selalu disebutkan namanya, tetapi tidak pernah diperlihatkan sosoknya. Empu Ramadi, merupakan salah satu yang paling terkenal. Bahkan Ki Dalang sering menyebutkan bahwa Empu Ramadi merupakan pembuat keris di Kahyangan, alamnya para dewa.
Keris-keris yang sangat populer di dunia pewayangan antara lain, Kaladete, Kalamisani, Kalanadah, Pulanggeni, Jalak, Carubuk. Sedangkan yang berupa panah, Guwawijaya, Pasupati, Cakra, Nagabanda, Cundamanik. Yang berupa gada, antara lain gada Rujakpolo, Lukitasari, Inten, Wesi Kuning.
Di zaman Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma menciptakan tokoh raksasa bernama Buta Cakil. Tokoh ini merupakan petarung yang sangat ahli memainkan keris. Keris Kolomunyeng namanya. Namun, karena Buto Cakil memang diciptakan sebagai tokoh jahat, dalam setiap pehampilannya, Buto Cakil selalu mati oleh kerisnya sendiri.
Di zaman Islam keris dan senjata tombak yang sangat terkenal adalah Keris Setankober, milik Adipati Jipang Aria Penangsang. Tombak Kyai Plered milik Panembahan Senapati.
Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Pangeran Diponegoro selalu mempersenjatai diri dengan sebilah keris. Bisa dilihat dalam lukisan-lukisan Diponegoro, keris selalu menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan. Demikian pula dengan bapak TNI, Jenderal Sudirman yang selalu mengenakan keris dalam setiap penampilannya.
Benarkah keris merupakan benda sakti? Jawabnya ada pada anda semua. Demikian juga jika ditanyakan, benarkah keris itu indah, jawabnya juga ada dalam diri anda semua.
Tetapi untuk melestarikan keris, para pekerja seni banyak yang sudah mencurahkan perhatian. Entah sebagai kolektor, pedagang, pengagum atau bahkan pembuat. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan budaya warisan leluhur kita itu.
Bagaimana membuat keris, adalah pertanyaan yang paling menarik. Karena jika ingin menjadi kolektor, sediakan saja uang yang cukup, maka syarat mendasar yang dibutuhkan sudah anda miliki. (bersambung)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang