Penyebaran Flu Burung di Sumut Tak Terbendung

Kompas.com - 12/08/2008, 20:01 WIB

 

MEDAN, SELASA - Penyebaran virus flu burung pada unggas terus menjalar. Kali ini masuk ke Kota Tebing Tinggi. Daerah ini menjadi daerah ketiga yang terserang virus setelah Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Labuhan Batu dalam dua minggu terakhir. Kendati demikian di Tebing Tinggi belum ada kontak virus kepada manusia.

Petugas mengetahui hasilnya positif serangan virus flu burung melalui rapid test. Kami masih mencari informasi lebih lanjut mengenai perkembangan virus , kata Kepala Seksi Veteriner Dinas Peternakan Sumatera Utara Nurdin Lubis, Selasa (12/8) di Medan.

Menurut Nurdin kasus positif serangan flu burung itu terdapat di Kelurahan Deblod Sundoro, Kecamatan Padang Hilir, Tebing Tinggi. Daerah ini berdekatan dengan Kabupaten Asahan dan Labuhan Batu yang sebelumnya diketahui kasus positif flu burung. Tebing Tinggi sejak 2005 sudah ditemukan kasus positif flu burung pada unggas, katanya.

Sebelumnya serangan flu burung pada manusia menyerang 12 daerah dari 28 kabupaten dan kota. Sedangkan s erangan flu burung pada unggas pernah terjadi di 20 daerah. Dari seluruh kasus flu burung yang pernah ada di Sumut , terdapat tujuh korban meninggal dunia pada manusia.

Pemusnahan virus tidak gampang. Dalam waktu tiga sampai empat tahun belum tentu bisa habis, katanya. Virus flu burung belakangan ini terjadi di daerah yang sebelumnya menjadi endemis penyebaran virus. Menurut dia, kecenderungan penyebaran virus flu burung pada bulan April sampai September setiap tahunnya. Fenomena ini, tuturnya, ada hubungannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.

Pengawasan Longgar

Dia mengakui pengawasan per edaran unggas dari satu daerah ke daerah lain berjalan longgar. Mestinya peredaran unggas ke daerah lain dilengkapi dengan surat dari petugas dinas peternakan. Kami membutuhkan aturan pengawasan peredaran unggas yang lebih ketat. Aturan yang selama ini ada hanya tentang peredaran unggas untuk kabupaten dan kota serta antar provinsi. Antar kecamatan dan antar desa belum ada aturanya, katanya.

Kepala sub Dinas P2P (pencegahan penyakit dan penyehatan) Dinas Kesehatan Sumut Surya Darma membena kan hal ini. Hanya saja dia belum mendapatkan informasi adanya kontak dengan manusia. Secara detail kami belum banyak menerima informasi. Meski begitu, kami mememinta aparat Dinas Kesehatan Tebing Tinggi tidak terlena. Perlu ada sosialisasi agar masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bersih. Ini sebagai salah satu upaya untuk menghadapi perkembangan virus, katanya.

Belakangan 12 warga Desa Air Batu, Kecamatan Air Batu berstatus terduga flu burung. A khir pekan lalu Departemen Kesehatan memastikan seluruh pasien itu negatif dari serangan virus flu burung. Kini sebagian besar pasien sudah kembali ke rumahnya. Hanya pasien berinisial F (7) yang masih menjalani perawatan karena diduga menderita demam berdarah.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau