JAKARTA, SELASA - Bertahan di tengah guncangan krisis moneter memerlukan pengorbanan dan upaya keras. Hanya mereka yang fleksibel, kreatif untuk melakukan perubahan dan memiliki kemampuan memimpin secara tegas yang akan mampu menahan guncangan tersebut.
Tahun 1996-2000 saat terjadi krisis ekonomi di Indonesia dan Asia, banyak perusahaan yang bangkrut dan menutup usahanya, kata Theresa CY Liong dari Prasetya Mulya di Jakarta, Selasa (12/8).
Theresa CY Liong berhasil meraih gelar doktor dari University of South Australia Internasional Graduated School of Business, Adelaide, Australia, melalui tesis PhD yang berjudul Explaining Success in Indonesia: The Case of PT Martina Berto.
Theresa CY Liong yang melakukan penelitian di perusahaan PT Martina Berto pimpinan pakar kecantikan Martha Tilaar selama 2,5 tahun mendapatkan bahwa perusahaan tersebut mampu bertahan di saat badai moneter 1996-2000 antara lain karena kepemimpinan Martha Tilaar yang lembut namun tegas saat menangani karyawannya yang berjumlah ribuan.
Selain itu, kerja tim yang keras untuk membuat produk-produk baru ternyata mendapat sambutan dari konsumennya. Saat krisis moneter, mereka mengubah produknya dengan memproduksi kosmetik seperti lipstik tiga warna. "Satu lipstik tiga warna, ini tentu sangat ekonomis, " kata Theresa Liong.
Kemampuan dan kemauan untuk mengubah produk, mengubah strategi produksi dan pemasaran membuat usaha Martha Tilaar bertahan. Terlebih karena krisis moneter, mengakibatkan orang mengonsumsi produk kembali ke alam karena mempertimbangkan faktor biaya yang lebih murah.
Mereka juga memproduksi jamu. Industri jamu berkembang baik karena menggunakan material lokal, jadi tidak perlu impor yang tentu saja mahal harganya, kata Theresa Liong.
Mau berubah dan kreatif adalah kunci sukses. Mengapa perubahan diperlukan? Orang biasanya tidak merasa nyaman dan aman untuk berubah. Tapi mereka memilih untuk berubah terutama dari segi jenis-jenis produk karena menyesuaikan dengan kondisi krisis, kata Theresa Liong.
Perubahan tentu tidak mudah. Perlu menyiapkan sumber daya manusia untuk perubahan atau restrukturisasi tersebut. Selain itu, teknologi juga perlu ditingkatkan, keterampilan-keterampilan baru juga harus menguasai teknologi baru.
Setelah satu hingga dua tahun perubahan, harus dipastikan semua orang di perusahaan tersebut tetap konsisten memelihara perubahan tersebut. "Di sini pelajaran yang bisa diambil, orang harus sadar untuk berubah supaya tetap survive, " ucap Theresa Liong.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang