Karma Prometheus di Gunung Kaukakus

Kompas.com - 12/08/2008, 21:34 WIB

ALKISAH, Prometheus kesal dengan tuannya, Dewa Zeus. Ia disuruh memelihara manusia, tetapi manusia dibiarkan kedinginan, bodoh dan tersiksa. Tak tahan dengan penderitaan manusia, Promethus pun mencuri api abadi milik Zeus di altar Hestia Gunung Olympus dan kemudian membagikannya kepada manusia.

Tetapi, perbuatannya itu membuat Zeus murka. Prometheus pun dirantai di sebuah pilar besar di Pegunungan Kaukakus. Tetapi tak apa. Api itu kini dinikmati manusia sebagai sumber semangat, ilmu pengetahuan dan harapan.

Wilayah Kaukasus meliputi Eropa Timur dan Asia Barat di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, termasuk Pegunungan Kaukasus dan daerah-daerah rendah lainnya. Kaukasus kadang dianggap sebagai bagian dari Asia Tengah. Puncak tertinggi di Kaukasus adalah Elbrus (5.642m), yang juga dianggap sebagai gunung tertinggi di Eropa.

Negara-negara merdeka yang membentuk Kaukasus kini adalah Rusia (Distrik Kaukasus Utara), Georgia, Armenia dan Azerbaijan. Wilayah besar non-independen di Kaukasus meliputi Ossetia, Chechnya, Ingushetia dan Dagestan.

Menurut Wikipedia, Kaukasus adalah salah satu daerah yang mempunyai keanekaragaman linguistik dan budaya yang paling luas di dunia. Ternyata, api yang dicuri Prometheus juga sumber malapetaka dan bahkan kini menjadi karma di tempat ia dipasung. Sebuah wilayah kecil, Ossetia Selatan yang berpenduduk hanya 70 ribu orang, kini menjadi penyebab perang antara Rusia dengan Georgia.

Kasusnya mirip dengan Kashmir yang menjadi rebutan India dengan Pakistan. Bedanya, Ossetia Selatan lebih condong kepada Rusia kendati sejak 1990 lalu mengumumkan kemerdekaannya secara de facto. Ossetia Selatan ingin mengikuti jejak Ossetia Utara yang telah menjadi bagian Federasi Rusia. Sedangkan konflik Kashmir lebih multidimensi karena sebagian kelompok Kashmir ingin terlepas dari India maupun Pakistan.

Ossetia merupakan kelompok etnik yang berbeda dengan Rusia maupun Georgian. Mereka hidup di sepanjang Sungai Don, berasal dari etnik Mongol ketika kerajaan itu menyerang Gunung kaukakus pada abad ke-13.

Konflik semakin tajam pasca bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Perebutan wilayah itu menimbulkan perang dingin antara Rusia dengan Georgia sehingga wilayah itu ditetapkan sebagai status quo. Tetapi, Uni Soviet mendukung kemerdekaan Ossetia Selatan sementara Georgia tetap mengklaim bahwa wilayah itu bagian dari negaranya.

Opsi Ossetia Selatan untuk menjadi negara otonom di bawah Georgia, seperti Abkhazia dan Ajaria ditolak. Tahun 1991-1992 pernah terjadi perang antara Georgia dengan Ossetia Selatan yang didukung Rusia. Akhir dari perang itu adalah gencatan senjata dan menetapkan wilayah itu sebagai status quo.

Kegagalan menguasai Ossetia Selatan kembali menguat setelah Mikheil Saakashvili terpilih menjadi Presiden Georgia 2004 lalu. Presiden muda ini memang kerap membuat kontroversi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Lalu, terjadilah penyerangan Rabu pekan lalu, (8/8). Tentara Georgia yang didukung tank dan pesawat tempur, membombardir Tskhinvali, ibukota Ossetia Selatan. Sebanyak 15 orang dilaporkan tewas dalam penyerangan itu.

Tentu saja Rusia tidak tinggal diam. Jet-jet tempur Rusia meraung dan mengamuk dua hari setelahnya, tidak hanya membebaskan Ossetia Selatan, tetapi juga menyerang jauh ke wilayah Georgia. Rusia melumpuhkan radar militer, bandara serta basis militer Georgia.

Masalah memang menjadi rumit meskipun Rusia tidak berniat untuk menguasai Georgia. Sebab, setelah pasukan Georgia berhasil dipukul mundur dari wilayah Ossetia, pakta pertahanan atlantik utara (NATO) tersinggung. Sebab, Georgia tahun ini mengumumkan ingin bergabung di dalam NATO bersama Ukraina. Hal ini juga yang membuat hubungan Moskow dengan Tbilisi memburuk.

Kerumitan lain, Abkhazia yang sejak lama ingin lepas dari Georgia memanfaatkan situasi. Ribuan tentara mereka juga ikut menyerang pasukan Georgia dan memberi ruang bagi kapal- kapal perang Rusia untuk membuat basis militer di perairan Laut Hitam.
Tetapi, bagi Eropa, yang paling dikhawatirkan dari perang itu adalah, harga minyak dunia yang saat ini sedang turun, bisa meroket lagi.

Pasalnya, Georgia adalah lintasan pipa minyak terpenting Eropa yang melintasi Baku-Tblisi- Ceyhan. Jalur pipa Kaukasus Selatan itu setiap harinya mengalir minyak 800-900 ribu barel per hari dari dari Turki hingga Laut Hitam sebelum dikapalkan ke sejumlah pelabuhan penting di Eropa.

Bisa dibayangkan bila pesawat-pesawat tempur Rusia membombardir pipa tersebut. Atau, bisa jadi, bila Gerorgia tidak mendapat dukungan Eropa dan NATO, menghancurkan sendiri pipa itu, kemudian menuduh Rusia. Kalau itu terjadi, tentu Dewa Zeus makin murka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau