Palestina Punya Ide Miliki KTP Israel

Kompas.com - 13/08/2008, 07:24 WIB

CAIRO, RABU - Ketua tim perunding Palestina, Ahmed Qorei, mengatakan, Palestina kemungkinan bisa menuntut solusi satu negara untuk dua bangsa jika Israel terus menolak mundur dari perbatasan tahun 1967.

”Pemimpin Palestina kini bekerja untuk berdirinya negara Palestina di atas tanah tahun 1967. Namun, jika Israel menolak mundur dari perbatasan tahun 1967, tertutup kemungkinan Palestina akhirnya terpaksa meminta kartu penduduk Israel dan menuntut solusi satu negara untuk dua bangsa,” lanjut Qorei.

Qorei mengungkapkan ide tersebut dalam pertemuan tertutup dengan para anggota dan simpatisan faksi Fatah hari Minggu (10/8) di Ramallah, Tepi Barat.

Qorei mengakui, perundingan damai dengan Israel buntu. Perundingan damai Israel-Palestina yang digelar sejak konferensi di Annapolis pada akhir tahun lalu tidak mengalami kemajuan, terutama tentang isu kota Jerusalem dan nasib pengungsi Palestina.

Pupus

Qorei menambahkan, peluang mewujudkan inisiatif damai Presiden AS George W Bush tentang solusi dua negara pada akhir tahun ini sudah pupus. Bulan lalu Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengumumkan berniat mundur lantaran terbelit kasus korupsi.

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, Kamis pekan lalu, menyatakan tidak yakin kesepakatan damai Israel-Palestina bisa dicapai akhir tahun ini.

Belum ada reaksi resmi dari Israel tentang ide Qorei. Namun, selama ini Israel selalu menolak inisiatif solusi satu negara untuk dua bangsa. Menurut pandangan Israel, menampung jutaan warga Palestina akan mengancam Israel yang berpenduduk mayoritas Yahudi.

Seperti dimaklumi, pertumbuhan penduduk Arab jauh lebih tinggi daripada penduduk Yahudi di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Israel. Diramalkan, penduduk Arab akan menjadi mayoritas dalam 20 tahun mendatang di tiga wilayah itu.

Mantan Ketua Knesset (parlemen Israel) Abraham Burg dalam sebuah acara ceramah di kota Baqa, wilayah Israel pertengahan, Juni lalu, juga mengatakan, solusi dua negara untuk Israel dan Palestina sangat sulit menjadi kenyataan. Wilayah sempit itu tidak mampu menampung dua negara. Menurut dia, solusi ideal bagi Israel dan Palestina adalah membentuk satu negara federal untuk dua bangsa.(MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau