Siapa Bisa Kalahkan Rizal Mallarangeng?

Kompas.com - 13/08/2008, 11:52 WIB

JAKARTA, SELASA - Seri III Garuda Indonesia Tennis Series 2008 akan berlangsung 25-31 Agustus 2008 dengan tajuk Kejuaraan Tenis Terbuka Rizal Mallarangeng.

Kejuaraan yang berlangsung di lapangan tenis Sultan Executive Club, Jakarta ini akan memperebutkan hadiah total Rp 150 juta. Kejuaraan ini merupakan rangkaian dari Garuda Indonesia Tennis Tournament yang terdiri dari 5 seri turnamen dan 1 seri master. Dua seri sebelumnya diselenggarakan di Jakarta, Maret dan Surabaya, Mei 2008.

Lantas,  apa hubungannya calon kandidat Presiden 2009 ini dengan dunia tenis? "Mungkin banyak yang belum tahu, saya ini pernah menjadi atlet tenis yunior nasional pada awal 1980-an," kata Rizal Mallarangeng di Jakarta, Selasa (12/8).

"Saya bermain saat SMA, dengan teman seangkatan saya Suharyadi dan Dedi Tedjamukti," kata Rizal dalam konferensi pers bersama mantan petenis nasional Angelique Widjaja dari Sportstama selaku penyelenggara. Suharyadi merupakan pemain utama Indonesia dekade 1980-1990-an. Sementara Dedi Tedjamukti juga bekas pemain nasional dan pernah menjadi pelatih Angelique Widjaja.

Rizal mengaku dihubungi oleh rekan-rekannya yang ada di Sportstama yang bertindak selaku event-organizer.  "Di sana ada rekan saya bekas pemain yang kini sudah jadi pengsuaha. Saya kalau berkaitan dengan olahraga apalagi tenis, tentunya akan mendukung," kata adik jurubicara Presiden, Andi mallarangeng ini.

Menurut Rizal, berdasar pengalamannya, para petenis memang membutuhkan jam terbang tinggi dengan mengikuti sebanyak mungkin turnamen. "Jaman saya dulu, turnamen tenis  bisa dihitung dengan jari. Untuk yunior biasanya di Malang. Namun kami menikmati sekali suasana kekeluargaan saat itu," katanya.

Prestasi tertingginya sebagai pemain  adalah saat ia menjadi juara dua turnamen tenis antarpelajar ASEAN di Bangkok pada 1981. "Saya kalah di final. Yang mengalahkan saya ya Heri (Suharyadi) itu," katanya.

Meski begitu, menjelang lulus di SMA Ragunan pada 1983, ayah Guntur dan Surya Mallarangeng ini memang sudah merasa  harus meninggalkan dunia tenis. "Saya dulu di SMA Ragunan menjadi pemimpin organisasi sebagai ketua OSIS. Guru-guru SMA saya yang justru menyarankan saya untuk melepas tenis dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," katanya.

Sebagai ketua OSIS dia merasa saat itu cukup populer. "Saat itu SMA atlet Ragunan merupakan sekolah pilihan. Saya sering diundang diskusi mau pun rapat-rapat di sekolah lain," katanya. Begitu poulernya, sehingga menurut Rizal, "saat itu teman-teman sekolah menjuluki saya Mister President."

Ah, bisa-bisanya Rizal yang biasa dipanggil Cheli ini saja. Ia mengakui gaya kampanye lewat olahraga biasa dipakai calon-calon presiden dalam demokrasi di AS. "Ya, demokrasi AS mengenal gaya ini." Bagaimana kalau pesaing lain menggunakan cara serupa? "Ha..ha.., silakan saja. Tetapi di lapangan tenis, kalahkan dulu saya..." (Tjahjo Sasongko)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau