Kesehatan

Bedah Syaraf bagi Para Penderita Epilepsi

Kompas.com - 13/08/2008, 16:00 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Orang yang hidup dengan epilepsi atau ODE di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang dan 1,5 juta di antaranya di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari seperempatnya atau hampir 400.000 orang tidak bisa lagi diobati. Satu-satunya cara penyembuhan penderita epilepsi adalah bedah syaraf.

"Sekitar 300.000-400.000 penderita epilepsi atau penyakit ayan di Indonesia telah kebal obat. Mereka hanya bisa disembuhkan dengan bedah syaraf," ujar Prof Dr dr Zainal Muttaqin SpBS pada pengangkatan dirinya sebagai Guru Besar Bedah Syaraf Universitas Diponegoro di Ruang Sidang Rektorat Undip Pleburan, Semarang, Selasa (12/8).

Zainal mencatat, sejak tahun 2001 hingga Desember 2007, ia telah menerima 170 pasien untuk menjalani bedah epilepsi. Pada 2007, jumlah pasien yang dioperasi mencapai 47 orang.

"Trennya selalu meningkat, bahkan untuk tahun 2008, setiap bulan ada empat sampai lima orang," katanya.

Dia berencana mendirikan Pusat Rujukan Nasional untuk Epilepsi bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Undip, RS Kariadi, dan Departemen Kesehatan.

Zaenal mengakui, tidak semua pasien yang telah menjalani operasi akan sembuh total. "Di dunia saja, baru 60-70 persen pasien saja yang bebas kejang, 8-10 persen pasien tidak bisa disembuhkan setelah operasi," ujarnya seraya menyebutkan biaya operasi Rp 6 juta hingga Rp 30 juta tergantung kelasnya. (*)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau