Pahlawan Itu Dimakamkan di "Makam Pahlawan"

Kompas.com - 13/08/2008, 18:21 WIB

KARAWANG, RABU - Matahari persis di atas kepala, Rabu (13/8). Iring-iringan kendaraan pembawa jenazah masuk perlahan-lahan mulai dari gerbang pemakaman San Diego Hills (SDH) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Mobil ambulans putih bertuliskan "Rumah Duka Dharmais" menjadi yang paling diperhatikan. Soalnya, di dalam mobil itulah, peti mati berisi jasad Lie Poo Djian dibawa dari Jakarta.

Buat sementara kalangan, nama Lie Poo Djian memang nyaris tak terdengar dalam hitungan tahun-tahun ke belakang. Boleh jadi, nama sosok yang menghadap ke haribaan yang Mahakuasa pada Sabtu (9/8) karena penyakit stroke itu bak tenggelam di balik nama-nama rekan seangkatannya seperti Tan Joe Hok maupun Ferry Sonneville.

Pihak SDH pun, seperti dikatakan Advertising Manager Dewanto Edi Prabowo, membutuhkan usaha agak lebih banyak untuk mencatat rekaman riwayat hidup dan prestasi Poo Djian.

Padahal, pada 1958 silam, nama pria kelahiran Purwokerto 25 Agustus 1932 bermarga Lie itu adalah satu dari "Tujuh Pendekar" bulutangkis Tanah Air selain Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, Tan King Gwan, Njoo Kim Bie, Eddy Yusuf, dan Olich Solihin. Waktu itu, Tan Joe Hok, Lie Poo Djian, dan Olich Solihin bermain di nomor tungga. Sementara, Tan King Gwan dan Njoo Kim Bie di nomor ganda.

Dari tangan merekalah, untuk kali pertama Piala Thomas yang merupakan lambang supremasi dunia untuk kejuaraan bulutangkis putra beregu, dibawa ke Indonesia. Mengubur asa juara bertahan Jiran Malaya (sekarang Malaysia) dengan skor 6-3, Singapore Badminton Hall (SBH) yang kelar dibangun pada Mei 1952 menjadi saksi bisu, Tim Thomas Indonesia menjadi juara.

Sebelumnya, alih-alih diantar gegap gempita oleh petinggi dan rakyat Indonesia, Tim Thomas cuma "ditemani" oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dr Halim saat berangkat ke Singapura pada 1 Juni 1958. Kala itu, Bangsa Indonesia "nggak pede" atau percaya diri kalau anak bangsanya bisa jadi jawara bulutangkis.

Tak cuma sampai di situ, Poo Djian yang memiliki kekerabatan dengan Joe Hok gara-gara keduanya menikahi dua perempuan kakak beradik itu masih pula tergabung dalam Tim Thomas Indonesia pada 1961. Bukan Malaya lawan mereka kala itu. Giliran Thailand dibungkam 6-3 di challange round. Jadilah Piala Thomas pun gagal ke luar negeri.

Di tengah terik mentari itulah, Poo Djian terbaring abadi, dalam kawasan yang diabadikan dengan nama Heroes Plaza, masih dalam kompleks SDH. Sejak awal, sebagaimana disampaikan Manajer Humas PT Lippo Karawaci Tbk (induk perusahaan SDH) Jeanny L Wullur, pihaknya memang menjadikan kawasan seluas 500 hektare itu sebagai tempat khusus untuk menguburkan tokoh-tokoh yang dianggap "pahlawan" yang memiliki jasa, prestasi bagi negeri ini.

Bukan hendak menyaingi Taman Makam Pahlawan yang nyata-nyata sudah jadi merek milik pemerintah, kawasan yang berada di tanah berbukit itu memang sengaja dibangun sebagai salah satu bagian program tanggung jawab sosial.

"Kami tidak mengenakan biaya apa pun dan makam akan dijaga dan dirawat selamanya bagi mereka yang dimakamkan di Heroes Plaza," imbuh Jeanny.

Sejatinya, termasuk Poo Djian, baru dua tokoh yang dikebumikan di tempat itu. Yang pertama adalah drg Endang Witarsa, tokoh sepak bola nasional.

Tutup usia pada Rabu 2 April 2008 dan dimakamkan pada Minggu 6 April 2008, pria kelahiran Kebumen 4 Oktober 1916 bernama asli Liem Soen Joe adalah pelatih bertangan dingin yang mengantarkan Indonesia berjaya di Piala Merdeka Malaysia (1969), Piala Aga Khan di Banglades (1969), Piala Raja Thailand (1970), dan Piala Kemerdekaan Indonesia (1972).

Endang Witarsa yang mengawali karier sebagai pemain di Klub Union Makes Strength (UMS), di masa kepelatihannya, mampu melambungkan nama-nama Sucipto Suntoro, Sinyo Aliandoe, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Rully Nere, Ronny Pattinasarani, dan Ronny Pasla di ajang sepak bola nasional dan internasional pada zamannya.  

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau