Pendaki Merapi Dilarang Bawa Korek Api

Kompas.com - 13/08/2008, 20:40 WIB

MAGELANG, RABU - Pada puncak perayaan 17 Agustus, setiap pendaki hanya diperbolehkan mulai mendaki pada dinihari. Dengan cara ini, diharapkan para pendaki akan tiba di puncak Merapi tepat pada saat matahari terbit, sehingga tidak perlu menyalakan api unggun.  

"Upaya ini, setidaknya diharapkan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya kebakaran di kawasan Gunung Merapi," ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Tri Prasetyo, Rabu (13/8).  

Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran, Prasetyo mengatakan, pihaknya juga akan melakukan sweeping terhadap barang-barang bawaan para pendaki. Segala alat-alat yang memicu timbulnya api seperti korek api, pemantik api, bahkan rokok, akan diamankan di pos pendakian dan baru akan dikembalikan setelah pendaki tersebut turun dari puncak.

Sebelumnya, selama musim kemarau, kawasan Gunung Merapi, sudah dua kali terbakar. Kebakaran pertama terjadi pada Minggu (27/7) , dan api baru berhasil dipadamkan keesokan paginya, Senin (28/8). Dalam kejadian ini, api telah menghanguskan, semak belukar seluas 5 hektar di petak 36 K, juga semak belukar dan 10 pohon pinus di petak 36 H seluas 0,35 hektar .  

Selanjutnya, api kembali berkobar pada Sabtu (9/8) hingga Minggu (10/8) di Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali . Titik api semula berasal dari petak 61 dan petak 62 Gunung Bibi, anak gunung Merapi. Kebakaran ini telah menghanguskan 30 hektar hutan serta merusak 500 meter pipa saluran air bersih warga.

Untuk mendaki Gunung Merapi tersedia tiga jalur pendakian, yaitu melalui Selo di Kabupaten Boyolali, Babadan di Kabupaten Magelang, dan Kemalang, Klaten. Untuk melalui Selo misalnya, perjalanan menuju puncak Merapi memakan waktu tiga jam. Mengacu pada pengalaman sebelumnya, para pendaki biasanya berangkat pukul 20.00 WIB, sehingga setelah sampai di puncak, mereka pun berkemah dan menyalakan api unggun hingga pagi. Namun, untuk menghindari bahaya kebakaran, para pendaki pun diminta untuk mulai mendaki sekitar pukul 01.00 WIB.

Pada setiap perayaan 17 Agustus, jumlah pendaki di Gunung Merapi mencapai sekitar 1.000 orang.  

"Namun, setelah beberapa kali terjadi kebakaran, minat pendaki diperkirakan akan berkurang dan tidak akan seramai tahun lalu," paparnya.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Gunung Merbabu Wilayah II Anggit Haryoso mengatakan, pada puncak perayaan 17 Agustus nanti, pihaknya tidak membatasi jumlah pengunjung. Namun, sama seperti Gunung Merapi, jumlah pendaki tahun ini diperkirakan kurang dari 1.000 orang.

Anggit menerangkan, para pendaki tetap akan diawasi secara ketat. Barang-barang bawaan berupa alat pemantik api dan senjata tajam akan diamankan dan tidak diperbolehkan untuk dibawa ke puncak Merbabu.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau