MAGELANG, RABU - Pada puncak perayaan 17 Agustus, setiap pendaki hanya diperbolehkan mulai mendaki pada dinihari. Dengan cara ini, diharapkan para pendaki akan tiba di puncak Merapi tepat pada saat matahari terbit, sehingga tidak perlu menyalakan api unggun.
"Upaya ini, setidaknya diharapkan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya kebakaran di kawasan Gunung Merapi," ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Tri Prasetyo, Rabu (13/8).
Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran, Prasetyo mengatakan, pihaknya juga akan melakukan sweeping terhadap barang-barang bawaan para pendaki. Segala alat-alat yang memicu timbulnya api seperti korek api, pemantik api, bahkan rokok, akan diamankan di pos pendakian dan baru akan dikembalikan setelah pendaki tersebut turun dari puncak.
Sebelumnya, selama musim kemarau, kawasan Gunung Merapi, sudah dua kali terbakar. Kebakaran pertama terjadi pada Minggu (27/7) , dan api baru berhasil dipadamkan keesokan paginya, Senin (28/8). Dalam kejadian ini, api telah menghanguskan, semak belukar seluas 5 hektar di petak 36 K, juga semak belukar dan 10 pohon pinus di petak 36 H seluas 0,35 hektar .
Selanjutnya, api kembali berkobar pada Sabtu (9/8) hingga Minggu (10/8) di Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali . Titik api semula berasal dari petak 61 dan petak 62 Gunung Bibi, anak gunung Merapi. Kebakaran ini telah menghanguskan 30 hektar hutan serta merusak 500 meter pipa saluran air bersih warga.
Untuk mendaki Gunung Merapi tersedia tiga jalur pendakian, yaitu melalui Selo di Kabupaten Boyolali, Babadan di Kabupaten Magelang, dan Kemalang, Klaten. Untuk melalui Selo misalnya, perjalanan menuju puncak Merapi memakan waktu tiga jam. Mengacu pada pengalaman sebelumnya, para pendaki biasanya berangkat pukul 20.00 WIB, sehingga setelah sampai di puncak, mereka pun berkemah dan menyalakan api unggun hingga pagi. Namun, untuk menghindari bahaya kebakaran, para pendaki pun diminta untuk mulai mendaki sekitar pukul 01.00 WIB.
Pada setiap perayaan 17 Agustus, jumlah pendaki di Gunung Merapi mencapai sekitar 1.000 orang.
"Namun, setelah beberapa kali terjadi kebakaran, minat pendaki diperkirakan akan berkurang dan tidak akan seramai tahun lalu," paparnya.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Gunung Merbabu Wilayah II Anggit Haryoso mengatakan, pada puncak perayaan 17 Agustus nanti, pihaknya tidak membatasi jumlah pengunjung. Namun, sama seperti Gunung Merapi, jumlah pendaki tahun ini diperkirakan kurang dari 1.000 orang.
Anggit menerangkan, para pendaki tetap akan diawasi secara ketat. Barang-barang bawaan berupa alat pemantik api dan senjata tajam akan diamankan dan tidak diperbolehkan untuk dibawa ke puncak Merbabu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang