Maria Kristin Dikeroyok Pemain China

Kompas.com - 14/08/2008, 00:07 WIB

JAKARTA, RABU - Pebulutangkis puteri Indonesia, Maria Kristin Yulianti akan berusaha menaikkan bendera merah putih di tengah keroyokan tiga pemain China di babak semifinal Olimpiade Beijing 2008.

Maria Kristin yang mwerupakan pebulutangkis utama Indoensia saat ini akan menghadapi juara bertahan Olimpaide Athena 2004, Zhang Ning di babak semifinal, JUmat (15/8) pukul 12 (11.00 WIB). Sebelumnya,  di partai semifinal lainnya, dua pemian China akan saling bunuh yaitu Xie Xinfang dengan Lu Lan.

Maria maju ke semifinal setelah mengalahkan pemain India, Saina Nehwal, dalam pertandingan tiga game 26-28, 21-14, 21-15 selama 64 menit di Beijing University of Technology Gymnasium. Sementara itu Zhang Ning yang menjadi unggulan kedua, menyusul setelah berjuang selama 66 menit untuk menyingkirkan unggulan kelima asal Perancis, Pi Hongyan, juga dengan rubber-game 21-8, 19-21, 21-19.

Pebulutangkis utama China, Xie Xinfang lolos ke babak semifinal setelah mengalahkan pemain Jerman asal China, Xu Huaiwen dalam dua game 21-19 22-20. Sementara Lu Lan lolos susah payah dengan menyingkirkan tunggal puteri Malaysia, Wong Mew Choo dalam dua game pula 21-7 29-17.

Menghadapi Zhang Ning, peluang Maria Kristin cukup terbuka.  Peluang terbesar adalah pada perbedaan usia yang cukup jauh. Maria Kristin kelahiran 1985, sementara Zhang Ning lebih tua sepuluh tahun.  Gaya permainan Maria Kristin yang mengandalkan stroke mau pun adu reli terbukti tidak begitu disukai pemain-pemain puteri China.  Bola Maria Kristin yang tinggi dan dalam memang sulit untuk dimatikan dengan cepat. Apalagi Maria Kristin memiliki defense yang cukup solid. Konsistensi permainan Maria terbukti memakan lawan yang lebih diunggulkan, Tine Rasmussen di babak kedua.

Prestasi Zhang Ning sebenarnya sudah menunjukkan grafik menurun. Pada usia 33, pemilihan Zhang Ning dianggap kontroversial karena  ada pemian lainnya yang akhirnya dicoret, Zhu Lin.  Pelatih kepala China, Li Yongbo membantah terpilihnya Zhang Ning sebagai balas jasa karena prestasi pemain tersebut, termasuk saat meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004.

Di arena olimpiade Beijing 2008 ini pun, Zhang Ning tampil tidak istimewa. Ia hanya menang rubber game atas lawannya dari Thailand, Salakjit Ponsana serta pemain veteran Perancis, Pi Hongyan.

Keberhasilan Maria Kristin lolos ke semifinal seperti jawaban terhadap paceklik prestasi para pemain tunggal puteri Indonesia setelah menghilangnya generasi Susy Susanti dan Mia Audina. Susy meraih medali emas di olimpiade Barcelona 1992 dan perunggu di Atlanta 1996. Sementara Mia Audina memperoleh medali perak di olimpiade Atlanta 1996. (Cay)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau