Demikian disampaikan Chief Economist Deutsche Bank Group Norbert Walter, Rabu (13/8) di Jakarta. Dia mengatakan, saat ini resesi ekonomi sebenarnya telah terjadi di AS dan sedang mengarah ke negara-negara di Eropa. Krisis perumahan di AS telah menekan perekonomian negara itu cukup dalam. Kondisi itu diperparah dengan adanya krisis keuangan, komoditas impor yang mahal, serta tingginya defisit rekening dan anggaran AS. "Tahun 2010 merupakan waktu yang paling cepat untuk keluar dari keadaan yang suram ini," kata Norbert Walter.
Adapun resesi di berbagai negara Eropa, kata Walter, dapat terjadi akibat krisis perumahan dan konstruksi. Apalagi, potensi pertumbuhan jangka panjang negara-negara di benua itu tergolong rendah akibat tantangan demografis. Apresiasi euro yang tinggi terhadap dollar AS juga menurunkan daya saing negara-negara Eropa. Perusahaan pengekspor mengalami kerugian besar akibat nilai tukar euro yang berada di atas perkiraan rata-rata keseimbangan nilai tukar.
Melemahnya perekonomian AS dan Eropa, kata Walter, memberi pengaruh signifikan terhadap prospek pertumbuhan Asia. Terlebih, gejolak pasar finansial yang terjadi di AS juga menimpa negara-negara berkembang. "Pengaruh AS dan Eropa sangat besar karena pertumbuhan ekonomi global selama ini 25 persen disumbang oleh AS dan 25 persen oleh Eropa," kata Walter.
Riset Deutsche Bank memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2009 hanya berkisar enam persen atau turun dua persen dari pertumbuhan 2008.
Sama dengan target
Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 diperkirakan masih sekitar 6 persen, sama dengan target pertumbuhan tahun 2008. Namun, Indonesia disarankan memenuhi permintaan akan komoditas energi dan pangan dari pasar domestik dan internasional agar perekonomian Indonesia dimungkinkan bertumbuh di tengah tren penurunan internasional.
Sekalipun masih tertekan sampai 2009, melemahnya ekonomi AS dan Eropa dinilai memberi pengaruh signifikan terhadap prospek pertumbuhan Asia. Hal itu tampak dari perdagangan intra-regional yang meluas cukup cepat. "Negara berkembang merupakan pilar terakhir pertumbuhan global," katanya.
Pendapat senada disampaikan Kepala Ekonom Bank BNI Tony Prasentiantono. Dia menjelaskan, pertumbuhan perdagangan intra Asia telah membuat perkenomian negara-negara di benua ini lebih bertahan. Dampak dari krisis perumahan serta ketergantungan terhadap AS dan Eropa semakin berkurang.
Menurut Toni, pemulihan ekonomi global dapat lebih cepat terjadi jika harga minyak berada pada kisaran 100 dollar-120 dollar AS per barrel. "Kalau harga minyak bisa stabil pada kisaran itu, 2009 recovery ekonomi sudah terjadi," katanya.