Ekonomi Global Mulai Pulih 2010

Kompas.com - 14/08/2008, 09:21 WIB
JAKARTA, KAMIS — Perekonomian Amerika Serikat dan Eropa belum membaik. Ini akan memperlemah perekonomian global yang diperkirakan baru akan pulih tahun 2010. Untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap tumbuh, disarankan agar memenuhi kebutuhan komoditas energi dan pangan dari pasar domestik.

Demikian disampaikan Chief Economist Deutsche Bank Group Norbert Walter, Rabu (13/8) di Jakarta. Dia mengatakan, saat ini resesi ekonomi sebenarnya telah terjadi di AS dan sedang mengarah ke negara-negara di Eropa. Krisis perumahan di AS telah menekan perekonomian negara itu cukup dalam. Kondisi itu diperparah dengan adanya krisis keuangan, komoditas impor yang mahal, serta tingginya defisit rekening dan anggaran AS. "Tahun 2010 merupakan waktu yang paling cepat untuk keluar dari keadaan yang suram ini," kata Norbert Walter.

Adapun resesi di berbagai negara Eropa, kata Walter, dapat terjadi akibat krisis perumahan dan konstruksi. Apalagi, potensi pertumbuhan jangka panjang negara-negara di benua itu tergolong rendah akibat tantangan demografis. Apresiasi euro yang tinggi terhadap dollar AS juga menurunkan daya saing negara-negara Eropa. Perusahaan pengekspor mengalami kerugian besar akibat nilai tukar euro yang berada di atas perkiraan rata-rata keseimbangan nilai tukar.

Melemahnya perekonomian AS dan Eropa, kata Walter, memberi pengaruh signifikan terhadap prospek pertumbuhan Asia. Terlebih, gejolak pasar finansial yang terjadi di AS juga menimpa negara-negara berkembang. "Pengaruh AS dan Eropa sangat besar karena pertumbuhan ekonomi global selama ini 25 persen disumbang oleh AS dan 25 persen oleh Eropa," kata Walter.

Riset Deutsche Bank memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2009 hanya berkisar enam persen atau turun dua persen dari pertumbuhan 2008.

Sama dengan target

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 diperkirakan masih sekitar 6 persen, sama dengan target pertumbuhan tahun 2008. Namun, Indonesia disarankan memenuhi permintaan akan komoditas energi dan pangan dari pasar domestik dan internasional agar perekonomian Indonesia dimungkinkan bertumbuh di tengah tren penurunan internasional.

Sekalipun masih tertekan sampai 2009, melemahnya ekonomi AS dan Eropa dinilai memberi pengaruh signifikan terhadap prospek pertumbuhan Asia. Hal itu tampak dari perdagangan intra-regional yang meluas cukup cepat. "Negara berkembang merupakan pilar terakhir pertumbuhan global," katanya.

Pendapat senada disampaikan Kepala Ekonom Bank BNI Tony Prasentiantono. Dia menjelaskan, pertumbuhan perdagangan intra Asia telah membuat perkenomian negara-negara di benua ini lebih bertahan. Dampak dari krisis perumahan serta ketergantungan terhadap AS dan Eropa semakin berkurang.

Menurut Toni, pemulihan ekonomi global dapat lebih cepat terjadi jika harga minyak berada pada kisaran 100 dollar-120 dollar AS per barrel. "Kalau harga minyak bisa stabil pada kisaran itu, 2009 recovery ekonomi sudah terjadi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau