Mengapa Sulit Cari Caleg Perempuan Berkualitas?

Kompas.com - 14/08/2008, 15:05 WIB

JAKARTA,KAMIS- Kesulitan partai politik memenuhi syarat 30 persen caleg perempuan bukan disebabkan keterbatasan sumber daya manusia perempuan yang berkualitas. Namun disebabkan tidak banyaknya perempuan-perempuan berkualitas yang mau terjun ke dunia politik. Mengapa?

Menurut peneliti Indra J Piliang dari Center for Strategy and International Studies, keengganan akademisi maupun aktivis perempuan untuk terjun ke dunia politik masih disebabkan nilai-nilai budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Masih banyak nilai-nilai di tengah-tengah keluarga yang memandang bahwa perempuan tak perlu ikut-ikutan di dunia politik, dan parahnya memandang bahwa dunia politik adalah dunia yang kotor dan jahat.

"Saya banyak ketemu perempuan berpolitik yang memang bekerja sampai malam, agak repot pasti. Kadang ada yang sampai nggak berkeluarga atau keluarganya kurang setuju. Ini urusan nilai di Indonesia berkaitan dengan perempuan," ujar Indra di Jakarta, Kamis (14/8).

Namun, Indra optimistis terhadap keterlibatan perempuan di dunia politik seiring modernisasi yang berkembang di tengah masyarakat. Modernisasi yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk aktif di luar dan menduduki jabatan-jabatan publik.

"Saya kira itu akan memberikan kepercayaan kepada kaum perempuan untuk aktif di parpol," tandas Indra.

Modernitas yang dimaksud Indra misalnya dengan memberikan pendidikan politik kepada keluarga-keluarga bahwa pekerjaan politik itu bukanlah pekerjaan yang negatif, dan dengan memberikan kepercayaan kepada perempuan dengan tidak lagi melibatkan perempuan hanya sebagai penyerta dalam berbagai aktivitas politik.

Namun, sambil menunggu perkembangan yang dihasilkan oleh modernisasi dan proses pendidikan politik bagi masyarakat, parpol hendaknya mulai berfokus kepada caleg-caleg perempuan yang sudah ada. "Dengan keterbatasan termasuk caleg perempuan, parpol bisa mendorong satu atau dua orang secara cepat yang nantinya akan jadi roll model, aktor kreatif untuk memperbaiki image parpol," ujar Indra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau