Gantung Raket, Agum Berharap Taufik Aktif di Bulutangkis

Kompas.com - 15/08/2008, 01:37 WIB

BEIJING, KAMIS - Mantan Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar berharap agar menantunya, Taufik Hidayat, tidak meninggalkan dunia bulutangkis setelah memutuskan gantung raket usai Olimpiade 2008 Beijing.

"Saya tidak tahu apa rencana Taufik setelah memutuskan untuk mengundurkan diri sepulang Olimpiade Beijing. Tapi, saya berharap agar Taufik tidak meningalkan dunia bulutangkis dan bersedia membantu membina perkembangan bulutangkis sebagai pembina atau motivator bagi adik-adik juniornya," kata Agum di Beijing, Kamis (14/8), ketika ditanya mengenai menantunya yang sudah memberinya seorang cucu berusia satu tahun itu.

Agum yang juga Menteri Perhubungan era Presiden Megawati Soekarnoputri itu menilai, sebagai seorang atlet, prestasi menantunya itu sudah melewati puncak dengan tampil sebagai juara Olimpiade 2004 di Athena dan kemudian melengkapi masa keemasannya dengan mejadi juara pada kejuaraan dunia 2005 di AS.

"Saya melihat Taufik tidak berbakat menjadi pelatih. Kalau dia ingin tetap menekuni bulutangkis, mungkin yang cocok untuknya adalah sebagai motivator dengan mengadakan berbagai program pelatihan untuk atlet-atlet muda," katanya.

"Dari segi prestasi, saya kira sudah cukup bagi Taufik dan sekarang bagaimana ia menjalani hidup untuk menatap masa depan," tambahnya.

Taufik yang merupakan juara bertahan dan di Olimpiade Beijing menjadi unggulan ketujuh itu, langsung tersingkir di babak penyisihan setelah dikalahkan pemain veteran Malaysia, Wong Chong Hann. Tapi, buruknya prestasi Taufik tidak terlepas dari demam berdarah yang menyerang dirinya dan ia baru keluar dari perawatan di rumah sakit, hanya seminggu menjelang bertolak ke Beijing.

"Dari awal saya sudah menekankan bahwa kondisinya tidak memungkinkan untuk tampil maksimal karena butuh waktu lama untuk benar-benar pulih dari serangan deman berdarah. Hanya tekad kuat yang membuatnya berusaha tampil untuk memberikan yang terbaik bagi negara untuk terakhir kali di ajang Olimpiade," kata Agum yang didampingi istrinya Linda Gumelar.

Mengenai peluang tim bulutangkis Indonesia untuk mempertahankan tradisi medali emas, Agum berharap bahwa ganda campuran Flandy Limpele/Vita Marissa dan Nova Widianto/Lilyana Natsir, ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, serta tunggal putri Maria Kristin, tidak terbebani dengan harapan besar yang ada di pundak mereka.

Ketiga nomor tersebut merupakan andalan yang tersisa untuk mempertahankan tradisi medali emas yang sudah berlangsung sejak Olimpiade 1992 Barcelona.

Ganda campuran Indonesia Flandy Limpele/Vita Marissa memastikan langkah mereka ke semifinal setelah pada perempatfinal mengalahkan pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Keberhasilan Flandy/Vita ke semifinal itu mengikuti sukses ganda campuran Indonesia lainnya, yakni unggulan pertama Nova Widianto/Lilyana Natsir, yang juga maju ke semifinal setelah mengalahkan pasangan Thailand Sudket Prapakamol/Saralee Thungthongkam 21-13, 21-19.

Pada semifinal yang akan digelar Sabtu (16/8), Flandy/Vita akan menghadapi pasangan Korea Selatan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung, sedang pasangan Nova/Liliyana akan menghadapi ganda campuran China He Hanbin/Yu Yang.

Sementara tunggal putri Maria Kristin di semifinal akan menghadapi tugas berat karena akan melawan unggulan kedua Zhang Ning asal China. (ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau