ADA yang menarik dari Ekspedisi Jalan Pos Anjer-Panaroekan yang pagi tadi dilepas Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Taufik H Mihardja yang juga Direktur Eksekutif Kompas.com.
Puluhan penggemar sepeda onthel ambil bagian dalam ekspedisi ini. Berbagai atribut mereka gunakan, seperti baju tentara, pistol, sepatu boot, maupun perlengkapan perang lainnya. Ada juga yang mengenakan baju tenun lurik dilengkapi caping bambu.
Mochamad Inan (78), warga Cakung, misalnya, memakai atribut tentara PETA. Kakek yang mengaku suka onthel sejak zaman Belanda ini berencana akan mengantarkan tim ekspedisi Kompas-Polygon sampai sekuat tenaganya. "Yah, kalau sampai Depok ya Depok. Pokoknya sekuatnya dah," katanya.
Hal berbeda diungkapkan Nunik (61) yang sering dipanggil Madam oleh teman-temannya di Komunitas Onthel Batavia (Koba). Ia hanya ingin mengikuti sampai di perempatan Mampang. Ia mengaku masih memiliki agenda sendiri. Namun, soal penampilan ia tidak mau kalah, dengan balutan kebaya warna merah serta kacamata hitam membuat dia lebih mencolok dibandingkan puluhan temannya yang ambil bagian dalam kegiatan ini.
Rohim (58) yang memakai sepeda buatan Inggris mengatakan akan mengikuti yang lainnya saja. "Terserah teman-teman yang lainlah Mas," katanya.
"Kalau teman-teman kuat, ayo aja," tuturnya sembari membetulkan sepeda mini buatan Yogya yang diletakkan di atas jok belakang. Hal ini juga diamini puluhan kawannya yang rata-rata memang berpenampilan luar biasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang