GORI, SENIN - Presiden Rusia Dmitry Medvedev berjanji mulai menarik pasukan dari wilayah Georgia Senin (18/8) ini. Namun, Dmitry Medvedev mengisyaratkan pasukan Rusia akan tetap ditempatkan di wilayah Georgia yang masih rawan konflik.
Beberapa pejabat terkemuka Amerika Serikat menerangkan Washington akan meninjau hubungannya dengan Moskow setelah Rusia menerjunkan pasukannya ke Georgia. "Saya berpendapat harus ada suatu respon tegas yang ditujukan ke Rusia untuk memperingatkan bahwa tindakannya yang bercermin dari era Soviet sudah tidak mendapat tempat lagi di abad ke-21," jelas Menteri Pertahanan AS Robert Gates.
Baik Gates ataupun Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice tidak menyebutkan secara rinci mengenai sanksi yang kemungkinan diambil oleh AS atau masyarakat internsional terhadap Rusia. Rice bertolak ke Eropa Senin ini untuk membahas dengan sekutu AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengenai sikap yang seharusnya diambil negara Barat terhadap Rusia.
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy memperingatkan Medvedev mengenai ancaman konsekuensi serius dari Eropa yang ditanggung Moskow apabila Rusia tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata yang diprakarsai oleh Eropa. Sarkozy yang memegang jabatan rotasi ketua Uni Eropa mengancam akan menggelar rapat luar biasa Dewan Uni Eropa untuk membahas sanksi yang diberlakukan apabila Rusia tidak segera menarik pasukan dari wilayah Georgia.
Namun, Medvedev tidak menyebutkan apakah pasukan tersebut akan kembali ke Rusia. Kesepakatan gencatan yang diprakarsai oleh Uni Eropa menyerukan pasukan Georgia dan Rusia kembali ke posisi awal mereka sebelum berlangsung pertempuran pada 7 Agustus lalu.
Medvedev telah menjelaskan ke Sarkozy bahwa pasukan Rusia yang akan ditarik Senin ini bergerak menuju ke South Ossetia. Dikhawatirkan Rusia akan menggabungkan South Ossetia ke dalam wilayahnya.
Dugaan itu muncul setelah provinsi separatis Georgia lainnya Abkhazia memisahkan diri dari kekuasaan Georgia pada tahun 1990an dan mendeklarasikan kemerdekaan. Pantai Laut Hitam Rusia akan bertambah hingga lebih dari 25 persen apabila Abkhazia bergabung dengan wilayah kekuasaan Moskow.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang