JAKARTA, SENIN - Berpikir bahwa setiap dokter dan rumahsakit tidak peduli pada orang miskin sangat tidak adil. Ada banyak dokter yang baik, juga ada rumahsakit yang peduli. Bila ada masalah antara pasien dan rumahsakit juga dokter, perlu dibuka komunikasi dan pendekatan yang baik. Demikian disampaikan Prof. Samsuridjal Jauzi, Sp.PD, Sabtu (16/8), di Jakarta.
Menurut pengalaman spesialis penyakit dalam dari RSCM, di kantornya, ada satu pundi-pundi di mana dokter menyerahkan sebagian dari gajinya. Bahkan ada dokter yang tidak mengambil gajinya bulat-bulat sampai sekarang dan menumpuk hingga ratusan juta. Ini semua hanya untuk menolong orang-orang miskin, katanya.
Ada juga temannya seorang dokter yang menjabat sebagai direktur di rumahsakit. "Gajinya sekitar tiga puluh juta." Tidak pernah diambil, hanya untuk menolong para pasien miskin. "Jadi, dokter juga manusia, kalau diketuk hatinya, mereka juga akan membantu." kata Samsu.
Samsu yang bicara di hadapan para pasien RSCM yang merasa diusir dari RSCM dan pasien korban malpraktik di Kantor LBH Kesehatan, Jakarta ini menjelaskan lebih jauh bahwa mungkin perlu cara-cara yang lebih baik untuk mendekati dokter dan rumahsakit. Satu sama lain perlu tahu ada masalah apa.
RSCM sendiri sebagai lembaga yang kerapkali banyak membantu orang miskin sebenarnya sudah menyiapkan tempat untuk menampung pasien yang datang dari tempat jauh. "Tapi kapasitasnya hanya 80-an. Sementara yang datang ratusan, tiga ratusan lebih." ujar Samsu. Karena itu, bantuan tentu saja sering tidak bisa diberikan secara maksimal.
Karena itu, penting juga diperhatikan dan dilihat rumahsakit daerah yang mengutus pasien ke RSCM. Mereka seharusnya minta konfirmasi dahulu ke RSCM sebelum merekomendasikan pasiennya apakah ada tempat atau perlukah dirujuk ke RSCM? Kalau tidak perlu, kata Samsu, kenapa disuruh ke RSCM?
Merasa Terusir
Sebelumnya, Rabu (16/7) diberitakan, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat, telah mengusir sekitar 30-an pasien peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jankesmas) dan keluarganya. Pengusiran itu membuat para pasien yang sebagian besar berasal dari luar Jakarta terlunta-lunta.
Para pasien Jankesmas tersebut antara lain adalah pengidap tumor, ginjal, dan katarak. Mereka berasal dari luar Jakarta, seperti Palembang, Riau, Lampung, Sukabumi, Indramayu, Serang, Bogor, dan Depok. Para pasien ini dirujuk ke RSCM dari rumah sakit asal mereka.
Sejumlah pasien dan keluarga pasien mengaku sudah sekitar dua bulan berada di RSCM dan tinggal di ruangan kosong di Lantai 1 Gedung Irna B. Mereka bertahan di tempat itu karena tak mungkin mondar-mandir ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di RSCM.
Namun, pada Rabu sekitar pukul 10.00, dua petugas satgam dan karyawan RSCM mendatangi "ruang penampungan" tersebut. Mereka menyuruh 30 pasien Jankesmas dan keluarganya meninggalkan ruangan itu. Pihak RSCM beralasan, Gedung Irna B termasuk "ruang penampungan" akan direnovasi. Namun, pihak RSCM tidak memberi jalan keluar bagi pasien dan keluarga pasien Jankesmas tersebut.
Bantah Mengusir
Namun pihak RSCM sempat membantah melakukan pengusiran terhadap pasien peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jankesmas) dan keluarganya. Gedung Irna B, tempat para pasien menginap sebelum disuruh keluar sebenarnya adalah gedung yang sengaja dikosongkan untuk keperluan renovasi. Selain itu, pasien yang disuruh keluar adalah para pasien rawat jalan, bukan rawat inap.
Kepala Bagian Humas RSCM, Poniwati Tacob kepada wartawan di RSCM, Kamis (17/7) mengatakan, sejak Februari 2008, Gedung Irna B yang sebelumnya diperuntukkan untuk rawat ingap pasien sengaja dikosongkan. Gedung tersebut siap direnovasi. Upaya renovasi tersebut dilakukan dalam rangka menjadikan gedung tersebut sebagai bagian dari Internasional Wing."Untuk Gedung Irna A dan B kita siapkan sebagai Internasional Wing," ujarnya.
Pasien-pasien yang sebelumnya dirawat di gedung tersebut dipindahkan ke Gedung A (gedung baru). Prosedur ketat di Gedung A yang tidak memungkinkan keluarga pasien menemani keluarganya yang dirawat, membuat keluarga pasien menggunakan ruang di Gedung Irna B sebagai tempat menginap. Semakin lama, jumlah orang yang menginap semakin banyak.
Orang yang menginap di tempat tersebut pun tidak cuma keluarga para pasien. Para pasien rawat jalan dari daerah luar Jakarta juga menggunakan tempat tersebut. Makin lama, jumlahnya semakin banyak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang