Saat Produk Malaysia Lebih Menyejahterakan...

Kompas.com - 19/08/2008, 12:46 WIB

NUNUKAN - Merah putih tetap berkibar di Pulau Sebatik dan perayaan HUT Kemerdekaan RI tetap meriah di sana.
    
Kurangkah rasa nasionalisme mereka?  Jangan buru-buru meremehkan pertanyaan itu. Untuk masyarakat Indonesia yang mendiami kawasan selatan Pulau Sebatik, memakai lambang merah putih bukan sekadar perayaan.
    
Perhatikan komentar warga Sebatik bernama Kartini. "Bukan kita tidak memiliki rasa nasionalisme, tapi nilai tukar ringgit dan produk dari Malaysia yang selama ini lebih mudah didapat dan menyejahterakan kami."
    
Warga Indonesia di Pulau Sebatik, pulau kecil di utara Kalimantan yang terbagi dua untuk Indonesia dan Malaysia, lebih mengenal produk Malaysia ketimbang produk dalam negeri.
    
Kawasan selatan Sebatik yang milik Indonesia masuk Kabupaten Nunukan (Kalimantan Timur),  berbatasan langsung baik laut maupun darat dengan Tawao, Sabah (Malaysia Timur).
    
Barang produk Indonesia sulit ditemukan di pulau dengan luas sekira 20 ribu hektare dan berpenduduk sekira 30 ribu jiwa itu. Masyarakat Sebatik lebih mudah memperoleh barang kebutuhan pokok dari Tawao.
    
"Kita lebih mudah dapat barang dari Tawao dan harganya lebih murah daripada  barang dari Tarakan," kata Kartini (30).
    
Selain itu, akses transportasi ke Tarakan dari Nunukan memakan waktu dua hingga empat jam dengan taksi air. Ongkosnya  paling sedikit  Rp400 ribu untuk pulang pergi.  
    
Namun, bila ke Tawao, masyarakat hanya mengeluarkan dana Rp35 ribu untuk menumpang speed boat yang tersedia setiap saat.
    
Untuk ke Tawao, masyarkat cuma  memperlihatkan pas tanda masuk dari  Imigrasi Indonesia. Yang bisa mendapatkan pas itu ialah  masyarakat yang memiliki KTP Nunukan.
    
Warga Indonesia di sana dengan mantap menyatakan, barang-barang produk Malaysia memiliki mutu yang lebih baik. Ada yang membandingkan suatu minuman kaleng bermerk sama. Yang produk Malaysia diakui memiliki rasa lebih enak dibandingkan dengan produk Indonesia.
    
Menurut Kartini, saat masih kecil ia tidak mengenal mata uang rupiah, soalnya, di Sebatik  transaksi sehari-hari kebanyakan menggunakan mata uang ringgit Malaysia.
    
Saat ini kurs untuk RM 1  sekira Rp 2.800 hingga Rp 3.000 di Sebatik. Ketergantungan warga Indonesia di Sebatik terhadap produk Malaysia juga memberikan keuntungan buat mereka.
    
Saat masyarakat beberapa wilayah di Indonesia kesulitan memperoleh elpiji untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat Pulau Sebatik ini tetap tenang dan tidak mengalami kekurangan atau harus antri untuk mendapatkan bahan bakar.
    
Warga di Sebatik mempergunakan gas elpiji dalam tabung milik perusahaan minyak dan gas  negeri jiran, yaitu Shell dan Petronas.
    
Tabung berisi gas elpiji milik Malaysia  lebih murah daripada milik Pertamina. Bahkan tabung gas milik perusahaan milik Indonesia menjadi barang langka di di Pulau Sebatik.
    
Gas elpiji milik Petronas berwarna kuning dan tabung gas elpiji Shell berwarna hujau. Harga gas Malaysia itu sebesar RM 35 (sekira Rp100 ribu) untuk ukuran 14 kg, sementara tabung gas elpiji biru milik Pertamina harganya sampai Rp150 ribu seukuran 12 kg.
    
"Kesejahteraan" warga yang didapat dari Malaysia itu setidaknya dirasakan sejak Pulau Sebatik ditempati warga asal Sulawesi Selatan pada 1970an. Saat ini, warga asal Sulawesi itu menjadi warga terbanyak di Pulau Sebatik, hingga 70 persen dari populasi.
    
Selain itu, pembangunan infrastrutur di Sebatik  kurang merata, akses jalan dari kampung satu dan kampung lainnya masih berupa jalan tanah dan belum tersentuh oleh pembangunan.
    
Tapi, tiap 17 Agustusan, rasa nasionalisme itu kembali terlihat. Bukan saja lewat jajaran bendera merah putih, juga melalui berbagai perlombaan seperti yang diadakan di berbagai wilayah di tanah air.
    
             Berbeda
    
Pada 17 Agustusan 2008, ada yang berbeda di pusat wilayah Indonesia di Sebatik, di lapangan sepak bola Sei Nyamuk, Kecamatan Sebatik Induk.
    
Ada seorang menteri di sana, yang menurut pengakuan warga, itu lah untuk pertama kalinya ada pejabat top yang menjadi pemimpin upacara di Sebatik.
    
Sebelumnya, paling tingga upacara memperingati detik-detik Proklamasi di sana dipimpin seorang camat.
    
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, pejabat teras pertama yang berpidato di Sebatik, membangkitkan rasa nasionalisme kepada warga.
    
"Perayaan Hari Proklamasi tahun ini istimewa karena kami dihibur oleh artis ibukota dan hadir sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menegpora. Hal seperti ini tidak pernah terjadi, padahal saya sudah 30 tahun," kata Rukayah, warga yang lahir dan besar di Sebatik.
    
Yang paling penting menurut Rukayah, tentu saja kehadiran penyanyi dangdut ibukota Amri Palu, yang termasuk tontonan langka di Sebatik.  
    
Setidaknya, semangat nasionalisme juga terus dibina Kodam VI/Tanjung Pura dengan mendirikan stasiun radio yang manyiarkan lagu-lagu nasional.
    
Saat itu Tono mengatakan stasiun radio ini akan menjangkau seluruh wilayah Kalimantan hingga perbatasan, agar masyarakat mengetahui perkembangan pembangunan di Indonesia.
    
Pihak Kodam VI/Tanjung Pura memberikan prioritas kepada masyarakat lokal, yang ingin masuk TNI AD. Kelak mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI.
    
Pulau Sebatik  menjadi tempat tinggal dua warga negara, Indonesia dan Malaysia). Wilayah  sebelah utara dengan luas 187,23 km persegi masuk wilayah Malaysia. Sedangkan sebelah Selatan masuk wilayah Indonesia dengan luas 246,61 km persegi.
    
Di pulau itulah terjadi pertempuran hebat antara pasukan Indonesia dan Malaysia ketika Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1963.
    
Keberadaan Pulau Sebatik sempat menjadi perhatian karena menjadi tempat TNI AL  menurunkan pasukan saat hubungan Indonesia dengan Malaysia memanas karena klaim sepihak negeri Jiran atas perairan Karang Unarang serta blok migas Ambalat yang sejak jaman penjajahan masuk wilayah Indonesia.
    
Berdasarkan fakta sejarah,  sebagian kawasan di utara Kalimantan Timur, termasuk Sebatik dan pulau-pulau sekitarnya (Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan) hingga mencapai batas Kesultanan Sulu (Filipina Selatan) masuk dalam wilayah Kesultanan Bulungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau