Pinjaman Lokal Kurangi Buble Economy

Kompas.com - 19/08/2008, 17:24 WIB

JAKARTA, SELASA - Untuk mengurangi buble economy akibat banyaknya dana luar negeri yang masuk ke Indonesia,pemerintah disarankan untuk memindahkan sebagian pinjamannya dari luar negeri ke pinjaman bank lokal. Hal tersebut diungkapkan oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (INDEF) Aviliani, dalam acara seminar kenaikan suku bunga ditengah ekses likuiditas, di hotel Bumikarsa Bidakara, Jakarta, Selasa (19/8). "Jika mengalihkan sebagian sumber pendanaan, pasti bisa mencegah pecahnya balon," kata Aviliani.

Selama lima tahun terakhir masa jabatan kabinet Indonesia Bersatu, menurut Aviliani hutang luar negeri meningkat dari Rp 82 miliar menjadi Rp 87 miliar. Sedangkan kepemilikan asing di Indonesia saat ini mencapai 70-80 persen.

"Kemarin terjadi over likuiditas sehingga mekanisme pinjaman ke bank pemerintah atau bank-bank lain di dalam negeri bagus untuk mengurangi capital inflow yang terlalu tinggi," kata Aviliani.

Aviliani menilai capital inflow yang terlalu tinggi akan sangat berbahaya. Pasalnya, bulan Agustus 2009 mendatang perekonomian AS diperkirakan akan membaik. Meskipun pinjaman dari bank lokal lebih mahal dengan suku bunga tinggi daripada hutang luar negeri, namun secara keseluruhan dinilai efektif untuk pembiayaan pemerintah jangka pendek pemerintah. "Kalau hutang luar negeri resource kita akan berkurang untuk bayar bunga," kata Aviliani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau